Kisah Sahabat Al Thufail bin ‘Amr Al Dausy

Namanya Thufail bin Amr bin Tharif bin Ash Ad-Dausi(dusi) Al-Azdi, adalah kepala kabilah Daus pada masa jahiliyah. Dia termasuk bangsawan Arab yang terpandang, seorang pemimpin yang memiliki kharisma serta kewibawaan yang tinggi dan diperhitungkan orang. Periuknya tidak pernah turun dari tungku. Pintu rumahnya tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang bertamu, melindungi orang yang sedang ketakutan dan membantu setiap penganggur. Di samping itu, dia pujangga yang pintar dan cerdas, penyair yang tajam dan berperasaan halus.

Selalu tanggap terhadap kenyataan-kenyataan yang manis dan yang pahit. Karya-karyanya mempesona bagaikan sihir. Pada suatu ketika, thufail meninggalkan negrinya, tihmah (dataran rendah sepanjang laut merah) menuju Makkah. Waktu itu pertentangan antara Rasululloh shallallahu Alaihi wa sallam dengan kafir Quraisy semakin nyata. Masing-masing pihak berusaha memperoleh pengikut atau simpatisan guna memperkuat golongannya. Untuk itu, senjata Rasululloh shallallahu Alaihi wa sallam hanya berdo’a kepada Tuhannya,disertai iman dan kebenaran yang dibawanya. Sedangkan kaum kafir Quraisy menegakan impian mereka dengan kekuatan senjata,dan dengan segala macam cara untuk menghalangi orang banyak menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.

Thufail terlibat dalam kemelut ini tanpa disengaja, karena kedatangannya ke makkah itu bukan untuk melibatkan diri. Bahkan pertentangan antara Nabi Muhammad dengan kaum Quraisy belum pernah terlintas dalam pikirannya sebelum itu. Thufail Ke Makkah Kedatangannya ke Makkah di sambut dengan hangat. Ia ditempatkan di sebuah rumah istimewa. Kemudian para pemimpin dan pembesar Quraisy berdatangan menemuinya. Hai thufail, kami sangat gembira Anda datang ke Negeri kami,walaupun negeri kami sedang dilanda kemelut. Orang yang mendakwahkan diri menjadi Nabi itu (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam) telah merusak agama kita,merusak kerukunan kita,dan memecah belah persatuan kita semua. Kami khawatir dia akan mempengaruhi Anda pula. Kemudian dengan kepemimpinan Anda, di pengaruhinya pula kaum Anda, seperti yang terjadi pada kami. Pesan Orang Quraisy kepada Thufail karena itu janganlah Anda dekati orang itu, jangan berbicara dengannya dan jangan pula mendengarkan kata-katanya.

Sebab kalau dia berbicara, kata-katanya bagaikan sihir. Perkataannya dapat memisahkan anak dengan bapak, merenggangkan saudara sesama saudara dan menceraikan istri dengan suami. Mereka terus menceritakan hal yang aneh-aneh kepada Thufail. mereka menakut-nakutkannya dengan keanehan-keanehan yang pernah dilakukan Nabi Muhammad. Thufail dilarang bicara bahkan mendengar ucapan Nabi Muhammad dan kaum muslimin sedikitpun. Thufail bertemu Nabi Muhammad Pada suatu pagi Thufail pergi ke masjid hendak tawaf di Ka’bah,dan mengambil berkah dari berhala-berhala yang ia puja. Hal seperti itu biasa dia lakukan ketika musim haji. Ia menyumbat telinganya dengan kapas,karena takut mendengar suara Nabi Muhammad dan pengikutnnya. Tetapi ketika masuk ke masjid, ia melihat Muhammad sedang shalat dalam Ka’bah.

 Thufail terpesona melihat shalat Nabi yang tidak sama dengan shalatnya. Sedikit demi sedikit ia bergerak menghampiri Nabi, sehingga akhirnya ia berada dekat sekali dengannya. Alloh subhanahu wa Ta’ala menakdirkan Thufail mendengar apa yang dibaca nabi. Thufail berkata kepada dirinya sendiri , “Betapa celakanya engkau, hai Thufail! Engkau seorang pujangga dan penyair. Engkau tahu membedakan mana yang indah dan yang buruk. Apa salahnya kalau engkau dengarkan dia bertutur? Mana yang baik boleh engkau ambil, mana yang buruk tinggalkan!” Thufail bagaikan terpaku di tempatnya. Ketika Rasululloh pulang,ia pun mengikutinya sampai ke rumah dan memuinya. Di hadapan Rasululloh ia bertanta, “Ya Muhammad, sesungguhnya kaum Anda berkata kepadaku tentang diri Anda begini dan begitu. Mereka menakut-nakutiku dengan urusan agama Anda. Oleh karena itu, aku menyumbat telingaku dengan kapas agar tidak mendengar sesuatu dari Anda. Tetapi Alloh menghendaki supaya aku mendengar sesuatu dari Anda. Ternyata apa yang Anda ucapkan semuanya benar dan bagus. Maka ajarkanlah kepadaku agama Anda itu!” Thufail Masuk Islam Rasulullah SAW mengajarkan kepadanya agama islam. Dibacakannya AL ikhlas dan AL falaq . sejak saat itu ia masuk Islam. Dan menetap di makah beberapa lama,mempelajari Agama Islam.

Ia mengahafal Ayat-ayat Al- qur’an yang dapat ia hafal. Ketika hendak bermaksud kembali kepada kaumnya,”Ya Rasulullah, aku ini pemimpin yang dipatuhi oleh kaumku. Aku bermaksud hendak kembali kepada mereka dan mengajak mereka masuk Islam. Tolonglah do’akan kepada Allah SWT semoga Allah memberiku bukti bukti nyata yang dapat memperkuiat dakhwahku kepada mereka,supaya mereka masuk Islam. Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam pun segera berdo’a agar Thufail dijadikan baginya tanda supaya kaumnya semakin percaya kepada Thufail. Mendapat Cahaya di Tongkatnya Ditengah perjalanan pulang,keluarlah suatu cahaya diantara kedua mata Thufail seperti lampu. Thufail berdo’a Ya Alloh, pindahkan lah cahaya ini ke tempat lain ,karena kalau cahaya ini terletak di antara kedua mataku,aku hawatir kalau-kalau kaumku manyangka mataku telah kena sihir lantaran meninggalkan agama berhala. Dengan izin Alloh cahaya itu dipindahkan ke ujung tongkatnya,bagaikan sebuah kendil tergantung.

 Setelah berada di tengah-tengah kaumnya, yang pertama tama mendatanginya adalah bapaknya sendiri. Beliau sudah berusia lanjut. Keluarga Thufai masuk Islam Ketika Thufail menawarkan Islam kepada bapak dan istrinya, mereka mau mengikuti ajaran Islam. Namun saat ia menyeru kaumnya tak seorang pun dari mereka yang mau mendengar seruan Thufail, kecuali Abu Hurairah. Dia paling cepat memenuhi panggilan Islam. Thufail datang memenuhi Rasulullah SAW di Mekah bersama Abu Hurairah. Rasulullah SAW bertanya, bagaimanakah perkembangan dakwahmu, hai Thufail? Hati kaumku masih tertutup dan sangat kafir.Sungguh seluruh kaumku, Kabilah Daus, masih sesat durhaka, jawab Thufail. Rasulullah SAW pergi mengambil wudhu’,kemudian beliau shalat. Sesudah shalar beliau menadahkan kedua tangannya ke langit, lalu berdo’a. Pada saat itu Abu Hurairah merasa khawatir jangan -jangan Rasulullah mendo’akan agar kabilah daus celaka. Tetapi sebaliknya, Rasulullah mendo’akan agar Allah memberikan hidayah kepada kaum Daus.

Rasulullah segera menyuruh pulang. Dan benar saja, saat Thufail menyeru kaumnya, mereka segera menyambut ajakan Thufail. Sejak itu hingga Rasulullah hijrah, Thufail meneap di negrinya. Perang Badar Sementara Itu terjadi perang Badar, perang Uhud, dan perang Khandaq. Thufail datang menghadap Rasulullah SAW dengan membawa 80 keluarga muslim Daus, yang keislamannya tidak diasingkan lagi. Rasulullah menyambut gembira kedatangan mereka. Dan sesuai dengan permohonan Thufail dan kaumnya, Rasulullah menempatkan mereka di sayap kanan pasukan Nabi. Dan kompi muslimin Daus ini dinamakan Kompi Mabrur. Sejak saat itu, Thufail selalu mendampingi Rasulullah. Fathu Makkah Setalah pembebasan kota Mekah, Thufail minta izin kepada Rasulullah, agar dibolehkan pergi ke Dzil Kafain untuk musnahkan berhala-berhala yang ada di sana.

Rasulullah memberi izin kepada Thufail. Dia berangkat ke tempat berhala tersebut dengan satu regu tentara dari pasukannya. Sewaktu sampai disana dan mereka bersiap handak membakar berhala Dzil Kafain, berkerumunlah kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak sekitar mereka, menunggu-nuggu apa yang akan terjadi. Mereka menduga akan terjadi petir dan halilintar, bila regu Thufail menjamah berhala Dzil Kafain itu. Tetapi Thufaildengan menatap menuju berhala itu disaksikan para pemujanya sendiri. Beliau menyulutkan api tepat di jantung Dzil Kafail, sambil bersajak : Hai Dzil Kafain, kami bukanlah pemujamu. Kelahiran kami lebih dahulu dari pada keberadaanmu. Inilah aku, menyulutkn api di jantungmu!

 Setelah api melahap habis patung-patung Dzil Kafain, sirna pulalah sisa-sisa kemusyrikan dalam kabilah Daus. Seluruh kabiah Daus masuk Islam, dan menjadi muslim-muslim sejati. Thufail bin Amr Ad-Dausy senantiasa mendampingi Rasulullah SAW sampai beliau wafat. Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah. Thufail dan anak buahnya patuh kepada pemerintahan Khalifah Abu Bakar. Tatkala berkecamuk peperenganmembasmi orang-orang murtad, Thufail paling dahulu pergi berperang bersama-sama tentara muslimmemerengi musailamah Al-Kadzhab (Musailamah si Pembohong). Begitu putra beliau, Amr bin Thufail yang selalu saja tak mau ketinggalan. Thufail bermimpi ketika menuju Yamamah Ketika Thufail dalam perjalanan menuju ke Yamamah (kawasan tempat musailamah menyebarkan pahamnya yang murtad), dia bermimpi, Aku bermimpi.

Cobalah kalian ta’birkan mimpiku ini,” kata Thufail kepada sahabat-sahabatnya Bagaimana mimpi anda? Tanya kawan-kawanya. Aku bermimpi kepalaku dicukur. Seekor burung keluar dari mulutku, kemudian seorang perempuan memasukanku ke dalam perutnya. Anakku Amr menuntut dengan sungguh-sungguh supaya dibolehkan ikut bersamaku. Tetapi dia tak dapat berbuet apa-apa karena antara aku dan dia ada dinding.” Sebuh mimpi nan indah! komentar kawan-kawan tanpa membarikan penafsiran sedikit pun. Akhirnya Thufail sendiri yang menta’birkan, Sekarang, baiklah aku ta’birkan sendiri. Kepalaku dicukur, artinya kepalaku dipotong orang. Burung keluar dari mulutku, artinya nyawaku dari jasadku. Seorang perempuan memasukanku ke dalam perutnya, artinya tanah digali orang, lalu dikuburkan. Aku berharap semoga aku tewas sebagai syahid. Adapun tuntutan anakku, dia juga berharap mati syahid seperti aku. Tetapi permintaanya dikabulkan kemudian.

Thufail Meninggal Dalam pertempuran memerangi pasukan Musailamah Al -Kadzab di Yamamah, sahabat yang mulia ini, yaitu Thufail Ibnu Amr Ad-Dausy, mendapat cidera sehingga dia terbanting dan tewas di medan tempur. Putranya, Amr, meneruskan peperangan hingga tangan kanannya buntung. Setelah itu dia kembali ke Madinah meninggalkan tangan sebalah dan jenazah bapaknya di medan tempur Yamamah. Tatkalah Khalifah Umar bin Khatthab memerintah, Amr binti Thufail (putera Thufail) pernah datang ke majlis Khalifah. Ketika dia sedang berada dalam majlis, makanan pun dihidangkan orang. Orang-orang yang duduk dalam majlis mengajak Amr supaya turut makanbersama-sama. Tetapi ‘Amrmenolak dan menjauh.

 Mengapa? tanya Khalifah. Barangkali engkau lebih senang makan belakangan, karena malu dengan tanganmu itu. Betul, ya Amirul Mu’minin! jawab Amr. Kata Khalifah, Demi Allah! Aku tidak akan memakan makanan ini, sebelum ia kau sentuh dengan tanganmu yang buntung itu. Demi Allah! Tidak seorang pun juga yang sebagian tubuhnya telah berada di syurga, melainkan hanya engkau. Mimpi Thufail menjadi kenyataan semuanya. Tatkala terjadi perang Yarmuk, Amr bin Thufail turut pula berperang bersama-sama dengan tentara muslimin. Amr tewas dalam peperangan itu sebagai syuhada’,seperti yang diharapkan bapaknya. Semoga Allah memberi rahmat kepada Thufail yang gugur diperang Yamamah dan putranya, Amr, yang syahid di medan tempur Yarmuk.

Kisah Sahabat Al Rabi’ bin Ziyad Al Haritsi

Namanya adalah ar-Rabi’ bin Ziad al-Haritsy, gubernur Khurasan, penakluk Sajistan dan komandan yang gagah berani sedang bergerak memimpin pasukannya berperang di jalan Allah bersama budaknya yang pemberani, Farrukh.

Setelah Allah memuliakannya dengan penaklukan Sajistan dan belahan bumi lainnya, dia bertekad untuk menutup kehidupannya yang semarak dengan menyeberangi sungai Sihun (sebuah sungai besar yang terletak setelah Samarkand, perbatasan Turkistan) dan mengangkat bendera tauhid di atas puncak bumi yang disebut dengan Negeri Di Balik Sungai itu.

Ar-Rabi’ bin Ziad menyiapkan peralatan dan bekalnya untuk peperangan yang sebentar lagi akan terjadi. Dan dia telah menetapkan waktu dan tempat untuk menghadapi musuhnya.

Dan ketika peperangan telah berkobar, ar-Rabi’ dan pasukannya yang gagah berani melancarkan serangan yang hingga kini masih didokumentasikan oleh sejarah dengan penuh sanjungan dan penghormatan.

Sementara budaknya, Farrukh telah menampakkan kegagahan dan keberaniannya di medan laga sehingga membuat ar-Rabi’ tambah kagum, hormat dan menghargai keistimewaannya itu.

Peperangan berakhir dengan kemenangan yang gemilang bagi kaum muslimin. Mereka telah mampu menggoncang musuh, mencerai-beraikan dan mengkocar-kacirkan pasukannya.

Kemudian mereka menyebrangi sungai yang menghalangi mereka untuk menuju ke arah negeri Turki dan menahan laju mereka ke arah negeri Cina dan kerajaan Shughd.

Ketika Panglima besar ini telah berhasil menyeberangi sungai dan telah kedua kakinya telah menapak ke tanah pinggirannya, dia dan pasukannya segera berwudhu dengan air sungai dengan sebaik-baiknya.

Lalu mereka menghadap kiblat dan melakukan shalat dua raka’at sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah, Penganugerah kemenangan.

Setelah itu, dia membalas jasa budaknya, Farrukh dengan memerdekakannya, memberinya bagian ghanimah yang sangat banyak, ditambah harta pribadinya yang cukup banyak pula.

Kehidupan setelah hari yang cemerlang dan terang itu tidaklah berlangsung lama bagi ar-Rabi’ bin Ziad al-Haritsy.

Ajal pun menjemputnya setelah dua tahun dari tercapai impiannya yang besar itu, untuk pergi menyongsong Rabbnya dengan penuh ridha dan diridhai.

Sedangkan anak muda nan gagah lagi pemberani, Farrukh, kembali ke Madinah al-Munawwarah dengan membawa bagian ghanimahnya yang banyak dan pemberian berharga yang diberikan oleh panglima besarnya.

Dan di atas semua itu, dia membawa kemerdekaan yang begitu mahal harganya dan kenangan indah bersama ukiran kepahlawanan yang dimahkotai oleh debu-debu peperangan.

Ketika menginjakkan kaki ke kota Rasulullah, Farrukh merupakan seorang pemuda yang sempurna, energik dan penuh semangat ksatria dan kepandaian berkuda. Ketika itu, usianya sudah menganjak 30-an tahun.

Farrukh telah berniat untuk membangun rumah tempat berteduh dan memiliki seorang isteri tempat tambatan hatinya.

Lalu dia membeli sebuah rumah tipe menengah di Madinah dan memilih seorang wanita yang cerdas otaknya, sempurna akhlaknya, baik agamanya dan seumur dengannya, lalu dinikahinyalah wanita itu.

Farrukh merasa nyaman dengan rumah yang dikaruniakan Allah kepadanya.

Didampingi oleh sang isteri, dia juga mendapatkan rizki yang memadai, perlakuan yang demikian baik dan kehidupan yang cemerlang melebihi apa yang sebelumnya pernah diharapkan dan dicita-citakannya.

Akan tetapi rumah yang mewah beserta kelebihannya dan istri yang shalehah dengan segala yang dikaruniakan Allah kepadanya; sifat yang baik dan prilaku yang agung, tidaklah mampu untuk membendung hasrat sang ksatria Mukmin ini untuk kembali terjun ke medan laga, kerinduan untuk mendengar suara gemerincing pedang saling bersabetan dan kegandrungannya untuk kembali berjihad di jalan Allah.

Setiap kali terdengar berita kemenangan pasukan muslim yang berperang di jalan Allah di Madinah, semakin menyalalah kerinduannya untuk berjihad dan semakin menggebulah hatinya keinginannya mendapatkan kesyahidan.

Suatu kala di hari jum’at, Farrukh mendengar khathib masjid Nabawi mengabarkan berita gembira perihal kemenangan pasukan muslim di berbagai medan peperangan, mengajak jema’ah untuk berjihad di jalan Allah dan menganjurkan untuk mencari kesyahidan demi meninggikan agama-Nya dan mengharap keridhaan-Nya,.

Maka pulanglah Farrukh ke rumahnya sementara dia telah memasang tekad bulat untuk bergabung di bawah bendera kaum muslimin yang bertebaran di bawah setiap komando. Dia menyampaikan niatnya tersebut kepada sang isteri.

Maka sang istri menjawab,“Wahai Abu Abdirrahman, kepada siapa engkau titipkan diriku dan jabang bayi yang sedang aku kandung ini?! Sebab di Madinah ini adalah orang asing yang tidak mempunyai keluarga dan sanak saudara.”

Lalu Farukh berkata,“Aku titipkan kamu kepada Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu 30.000 dinar yang aku kumpulkan dari ghanimah perang; jagalah dan investasikanlah harta itu. Belanjakanlah untuk dirimu dan anakmu darinya dengan baik hingga aku pulang dengan selamat dan membawa ghanimah atau Allah karuniakan kepadaku kesyahidan yang aku cita-citakan.”

Kemudian dia berpamitan dengannya dan pergi menuju tujuannya.

Istri yang cerdas otaknya ini kemudian melahirkan bayinya setelah beberapa bulan dari kepergian sang suami.

Ternyata anaknya adalah laki-laki berwajah ceria, tampan dan enak dipandang. Sang ibu sangat bahagia dengan kelahiranya, sampai-sampai dia lupa akan kepergian ayahnya. Anak ini, dia beri nama Rabi’ah.

Sejak kecil, tanda-tanda kecerdasan telah nampak pada anak kecil ini. Tanda-tanda kepintaran itu nampak pada tingkah laku dan perkataannya. Karena itu, sang ibu menyerahkannya kepada beberapa orang guru dan berpesan kepada mereka agar mengajarkannya dengan sebaik-baiknya. Dia juga mengundang guru-guru akhlaq dan menyarankan merkea agar melakukan penggamblengan yang ketat terhadapnya.

Tak berapa lama dari itu, sang anak sudah menekuni baca-tulis. Dia juga dapat menghafal Kitabullah dan selalu membacanya secara tartil dengan begitu indah layaknya saat diturunkan ke hati Muhammad SAW. Begitu pula, dia banyak menghafal hadits Rasulullah SAW, pandai memamerkan ungkapan Arab yang indah dan mengetahui masalah-masalah agama yang esensial.

Untuk kebutuhan itu, Ummu Rabi’ah sudah banyak mengeluarkan ‘kocek’ buat para guru dan pendidik akhalq sang anak, demikian juga memberi hadiah-hadiah kepada mereka. Setiap dia melihat peningkatan ilmu sang anak, dia menambah uang buat mereka sebagai bentuk kepeduliaan dan penghormatan.

Di samping hal itu, rupanya dia juga selalu menanti-nanti kepulangan sang suami yang raib dan sudah berupaya untuk hanya menjadikannya sebagai belahan hatinya dan anaknya.

Akan tetapi sang suami, Farrukh telah lama menghilang sementara berita tentangnya masih simpang-siur; ada yang mengatakan dia ditawan musuh. Ada yang mengatakan bahwa ia meneruskan jihad. Sementara ada sekelompok orang lainnya yang sudah pulang dari medan jihad bahwa ia telah meraih kesyahidan yang diimpi-impikannya.

Bagi Ummu Rabi’ah pendapat terakhir ini lebih kuat karena sudah terputusnya berita tentangnya. Karena itu, diapun sedih sesedih-sedihnya yang membuat hatinya merana, lantas menyerahkan semua itu kepada Allah Ta’ala semoga dibalas pahala atas kesabarannya.

Ketika itu, Rabi’ah sudah beranjak remaja dan hampir masuk usia pemuda.

Para pemberi nasehat berkata kepada ibundanya,“Ini si Rabi’ah sudah menyelesaikan baca-tulis yang sudah semestinya diselesaikan untuk orang seusianya. Bahkan dia unggul atas teman-teman seumurnya; dia hafal al-Qur’an dan juga meriwayatkan hadits. Andaikata engkau pilihkan suatu pekerjaan yang dapat menghasilkan kebaikan buatnya, pasti dengan begitu cepat dia bisa menekuninya dan lantas dapat menafkahimu dan dirinya.”

Ibu Rabi’ah menjawab, “Aku memohon kepada Allah agar Dia memilihkan untuknya hal terbaik bagi kehidupan dan akhiratnya…”

Sesungguhnya Rabi’ah telah memilih ilmu untuk dirinya dan bertekad bulat untuk hidup sebagai penuntut ilmu dan pengajar selama hayat dikandung badan.

Rabi’ah terus berlalu sesuai jalan yang telah digariskannya untuk dirinya tanpa menunda-nunda dan berbuat teledor, menyongsong halaqah-halaqah ilmu yang demikian sesak di masjid Madinah sebagaimana layaknya seorang yang dahaga yang menuju sumbe air nan lezat.

Dia berguru dengan para shahabat yang masih tersisa, terutama Anas bin Malik, khadim Rasulullah SAW.

Dia juga berguru dengan kontingen pertama dari generasi Tabi’in, terutama Sa’id bin al-Musayyib, Mak-hul asy-Syamy dan Salamah bin Dinar.

Dia terus berjerih payah pada malam hari dan siang harinya hingga betul-betul kelelahan.

Kita pernah mendengar para gurunya berkata, “Sesungguhnya ilmu itu tidak akan memberimu separoh dirinya kecuali bila kamu telah memberinya seluruh ragamu.”

Tidak berapa lama berlalu, namanya kemudian menjadi bergema, bintangnya telah berkibar dan saudara-saudaranya semakin banyak.

Para murid-muridnya amat menggandrunginya dan kaumnya telah menjadikannya sebagai pemuka mereka.

Kehidupan ulama Madinah ini berjalan damai dan tentram; separoh harinya dia berada di rumah bersama keluarga dan saudara-saudaranya. Separoh lagi dia gunakan di masjid Rasululullah guna menimba ilmu dari majlis-majlis dan halaqahnya.

Kehidupannya berjalan samar-samar hingga terjadilah sesuatu yang tidak pernah disangka-sangka

Pada suatu malam saat bulan purnama di musim panas, seorang pejuang yang sudah berumur sekitar enam puluh tahun-an baru sampai di Madinah.

Orang itu berjalan memasuki gang-gangnya dengan berkuda menuju rumahnya. Dia tidak tahu, apakah rumahnya masih berdiri seperti sedia kala atau sudah terjadi perubahan seiring dengan perjalanan waktu.

Sudah lama ia tingglkan, yaitu selama tiga puluh tahun atau sekitar itu.

Dia bertanya-tanya dalam hati tentang isterinya yang masih muda, yang dia tinggalkan di rumah itu; apa yang telah dia lakukan? Dan tentang jabang bayi yang dikandungnya; apakah anak laki-laki atau perempuan yang lahir? Apakah dia hidup atau mati? Dan jika hidup, bagaimana keadaannya?

Dia juga bertanya-tanya tentang uang banyak yang dia kumpulkan dari beberapa ghanimah jihad, yang dia titipkan padanya ketika akan berangkat berperang di jalan Allah bersama tentara kaum muslimin yang bergerak untuk menaklukkan negeri Bukhara, Samarkand dan sekitarnya.

Waktu itu, gang-gang Madinah dan jalan-jalannya masih ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang karena mereka hampir saja akan melaksanakan shalat isya’.

Akan tetapi tidak seorangpun dari orang-orang yang dia lewati mengenalnya, tidak ada yang memperdulikannya, tidak melihat kudanya yang kurus dan tidak melihat pedangnya yang menggelayut di pundaknya.

Penduduk kota-kota Islam telah terbiasa melihat pemandangan para mujahidin yang hendak berangkat menuju peperangan di jalan Allah atau kembali darinya.

Akan tetapi hal itulah yang justeru menimbulkan kesedihan dan rasa cemas di hati pejuang ini.

Tatkala pejuang ini hanyut dalam alam pikirannya, sembari terus berjalan mencari rumahnya di gang-gang yang sudah banyak berubah itu, tiba-tiba dia mendapati dirinya sudah berada di depan rumahnya.

Kebetulan dia dapati pintunya terbuka sehingga saking gembiranya, dia lupa meminta izin dulu kepada penghuninya. Dia langsung menyelonong masuk hingga sampai ke bagian dalam.

Pemilik rumah mendengar suara pintu, lalu dia melongok dari lantai atas. Ternyata di bawah benderang sinar rembulan, dia melihat seorang laki-laki yang menghunus pedang dan menggantungkan tombaknya sedang memasuki rumahnya di malam hari.

Waktu itu istrinya yang masih muda berdiri tidak jauh dari incaran mata orang asing itu.

Melihat gelagat itu, pemilik rumah langsung marah dan segera turun tanpa alas kaki seraya berkata,
“Apakah anda ingin sembunyi di balik kegelapan wahai musuh Allah dan merampok rumahku serta menyerang istriku?!”

Lalu dengan seketika, dia menyerang orang tersebut bak harimau yang ingin mempertahankan sarangnya jika ada yang ingin mengganggunya dan tidak memberikan kesempatan lagi kepadanya untuk berbicara.

Akhirnya, masing-masing saling baku hantam sehingga suasana gaduh semakin seru dan suaranya semakin mengencang. Karenanya, para tetangga berhamburan menuju ke rumah itu dari segala penjuru. Lalu mereka mengurung orang asing ini ibarat lingkaran borgol di tangan dan membantu tetangga mereka untuk menghadapinya.

Lantas pemilik rumah mencengkeram leher orang asing itu dan mengencangkan cengkeramannya seraya berkata,“Demi Allah aku tidak akan melepaskanmu -wahai musuh Allah- kecuali nanti di samping gubernur.”

Maka orang itu berkata, “Aku bukan musuh Allah dan tidak melakukan dosa apa-apa.! Ini adalah rumahku dan budakku, aku mendapati pintunya terbuka lalu aku memasukinya.”

Kemudian orang asing itu menoleh ke arah khalayak sembari berkata,
“Wahai hadirin, tolong dengarkan aku. Rumah ini adalah rumahku yang aku beli dengan hartaku. Wahai hadirin, aku ini adalah farrukh. Apakah tidak ada seorang tetanggapun yang masih mengenali Farrukh yang pergi sejak tiga puluh tahun lalu untuk berjihad di jalan Allah?!.”

Waktu itu ibu pemilik rumah ini sedang tidur lalu terbangun karena mendengar keributan. Dia melongok dari jendela lantai atas dan melihat yang ternyata benar-benar suaminya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hampir-hampir saja saking terkejutnya, lisannya tak dapat berbicara, untunglah tak berapa lama kemudian dia dapat mengatasinya seraya berkata,

“Biarkan dia, biarkan dia! wahai Rabi’ah! Biarkan dia, wahai anakku. Sesungguhnya dia itu adalah ayahmu. Wahai hadirin, pergilah kalian semua, semoga Allah memberkati kalian.”
“Berhati-hatilah, wahai Abu Abdurrahman.! Sesungguhnya orang yang engkau hadapi itu adalah anak dan belahan hatimu sendiri.”

Begitu ucapannya menyentuh telinganya, maka Farrukhpun segera menyongsong Rabi’ah, merengkuh dan memeluknya.

Sedangkan Rabi’ah, langsung menyongsong Farrukh lalu mencium kedua tangannya, lehernya dan kepalanya.Dan orang-orang pun bubar…

Ummu Rabi’ah turun untuk memberi salam kepada suaminya yang sebelumnya dia tidak mengira akan bertemu dengannya di tanah ini setelah beritanya terputus selama hampir sepertiga abad.

Farrukh duduk di sebelah istrinya dan mulai bercerita tentang pengalamannya serta menyampaikan sebab terputusnya berita tentang dirinya tersebut.

Akan tetapi Ummu Rabi’ah tidak begitu memperhatikan omongannya. Rasa takut akan amarah suaminya karena telah menyia-nyiakan harta yang telah dititipkannya padanya telah memperkeruh kegembiraannya bertemu dengannya dan pertemuannya dengan anaknya.

Dalam hati dia berkata, “Kalau dia menanyaiku sekarang tentang sekian banyak uang yang dititipkannya padaku sebagai amanat, yang waktu itu dia berpesan agar aku membelanjakannya di jalan yang ma’ruf (baik), apa yang harus kujawab? Apa kira-kira reaksinya andai aku beritahu bahwa tidak ada sepeserpun yang tersisa? Apakah dia akan percaya bila aku katakan bahwa semua hartanya yang dia tinggalkan itu telah aku gunakan untuk biaya pendidikan dan pengajaran anaknya? Apakah mungkin biaya seorang anak bisa mencapai 30.000 dinar? Apakah dia akan percaya bahwa tangan sang anak lebih mulia daripada awan yang menurunkan hujan dan bahwa dia tidak menyisakan sepeser dinar atau dirham-pun untuk dirinya? Apakah dia akan percaya bahwa semua orang di Madinah ini pasti tahu bahwa anaknya itu telah menginfakkan beribu-ribu uang untuk rekan-rekannya?.”

Pada saat Ummu Rabi’ah tenggelam dalam lamunannya ini, suaminya menoleh kepadanya seraya berkata,“Sekarang aku bawa lagi untukmu, wahai Ummu Rabi’ah sebanyak empat ribu dinar. Maka tolong perlihatkan uang yang dulu aku titipkan padamu supaya kita kalkulasi dengan yang ini, lalu harta kita semuanya itu kita belikan sebuah kebun atau real estate sehingga dari omsetnya kita bisa hidup selama hayat dikandung badan.”

Ummu Rabi’ah pura-pura menyibukkan diri dan tidak memberikan jawaban sedikitpun.

Lalu suaminya mengulang permintaannya kembali sembari berkata,“Ayo, mana harta itu supaya aku gabungkan dengan yang ada di tanganku ini?”

Lalu Ummu Rabi’ah berkata,“Aku telah menyimpannya di tempat yang layak dan akan aku berikan padamu beberapa hari lagi, insya Allah.” Untunglah, suara adzan memutus perbincangan keduanya.

Lalu Farrukh bergegas mengambil kendi dan berwudlu.Kemudian cepat-cepat menuju pintu dan berteriak, “Di mana Rabi’ah.?”

Mereka menjawab, “Dia telah mendahuluimu ke masjid sejak adzan pertama, dan kami kira kamu tidak akan mendapatkan shalat jama’ah.”

Farrukh sampai di masjid, dan mendapati imam baru saja selesai dari shalat. Dia kemudian melakukan shalat wajib, lalu menuju kuburan yang mulia untuk mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW, kemudian beranjak ke Raudhah yang suci, karena hatinya masih rindu untuk melakukan shalat di sana.

Dia memilih suatu tempat di hamparannya yang sejuk dan melakukan shalat sunnah semampunya di sana, kemudian berdo’a kepada Allah.

Dan ketika ingin meninggalkan masjid, dia menemukan ruangannya yang luas telah disesaki majlis ilmu yang belum pernah dia saksikan sebanyak itu sebelumnya.

Dia melihat orang-orang telah melingkar di sekeliling Syaikh, satu demi satu hingga tidak ada lagi tempat menginjakkan kaki di lokasi itu, lalu dia mengarahkan pandangannya ke arah orang-orang, ternyata di sana banyak sekali syaikh-syaikh yang memakai syal dan sudah tua-tua, orang-orang terhormat yang dari gerak-gerik mereka menunjukkan bahwa mereka orang-orang penting (berpangkat) dan para pemuda yang banyak sekali sedang bersimpuh di atas lutut mereka sembari mengambil pena dengan tangan untuk menulis apa saja yang dikatakan Syaikh tersebut layaknya permata-permata yang diperebutkan. Lalu menyimpan tulisan itu di dalam buku catatan mereka sebagaimana halnya benda-benda berharga disimpan.

Orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke arah di mana syaikh duduk, mendengarkan penuh khidmat setiap ucapan yang keluar hingga seakan-akan di atas kepala mereka ada burung yang bertengger. Para petugas penyampaian (Muballigh) menyampaikan apa yang diucapkan syaikh, paragraf demi paragraf sehingga sekalipun seseorang jauh tempatnya, tidak akan ketinggalan satu patah katapun.

Dalam pada itu, Farrukh berusaha memasati (mengamati dengan jelas) wajah si syaikh tersebut namun tidak berhasil karena tempatnya yang jauh.

Penjelasannya yang cemerlang, ilmunya yang mumpuni dan ingatannya yang luar biasa membuatnya tertawan, terlebih lagi dengan pemandangan orang-orang yang begitu tunduk di hadapannya. Tidak berapa lama, syaikhpun menutup majlis pengajiannya dan bangkit berdiri. Maka, serta-merta orang-orang menyongsong ke arahnya, berdesak-desakan, melingkarinya dan berdorong-dorong mengikuti dari belakangnya guna mengantarnya hingga ke luar arena masjid.

Ketika itulah, Farrukh menoleh ke arah orang yang duduk di sebelahnya tadi seraya berkata,“Tolong katakan kepadaku –atas nama Rabbmu- siapa syaikh itu?.”

“Bukankah anda ini berasal dari Madinah.?” Jawab orang itu dengan penuh keheranan.

“Benar.” Kata Farrukh

“Apakah ada orang yang tidak mengenal syaikh di Madinah ini?.” kata orang itu lagi

“Ma’afkan aku, bila aku tidak begitu mengenalnya. Sudah sekitar 30 tahun aku habiskan waktu jauh dari kota Madinah ini dan baru kemarin aku kembali.” Kata Farrukh lagi

“Kalau begitu, nggak apa-apa. Mari duduk bersamaku sebentar, biar aku ceritakan tentang syaikh ini.”

Orang itu melanjutkan,“Syaikh yang anda nikmati pengajiannya tadi itu adalah salah seorang pemuka Tabi’in dan tokoh kaum Muslimin. Dia lah Ahli hadits kota Madinah ini, Faqih berikut Imamnya sekalipun usianya masih belia.”

“Masya Allah, La Quwwata Illa Billah.” Jawab Farrukh

orang tadi meneruskan,“Sebagaimana yang anda lihat, majlis pengajiannya juga dijubeli oleh Mâlik bin Anas, Abu Hanîfah (keduanya adalah imam madzhab terkenal), Yahya bin Sa’îd al-Anshâry, Sufyân ats-Tsaury, ‘Abdurrahmân bin ‘Amr al-Awzâ’iy, al-Laits dan banyak lagi yang lainnya.”

“Tetapi kamu…” celetuk Farrukh

Namun orang itu tidak memberikannya kesempatan untuk melanjutkan ucapannya tersebut dan langsung melanjutkan,“Di atas semua itu, dia adalah seorang tuan, yang mulia pekertinya dan rendah diri lagi dicintai orang serta dermawan. Penduduk Madinah ini tidak pernah mengenal orang yang lebih dermawan darinya baik terhadap teman ataupun anak teman…tidak ada yang lebih zuhud darinya terhadap glamour duniawi serta tidak ada yang lebih besar cintanya terhadap anugerah Allah selainnya.”

“Tapi kamu belum juga menyebutkan kepadaku, siapa namanya!.” Komentar Farrukh

“Dia adalah Rabi’ah ar-Ra`yi.” Jawab orang itu

“Rabi’ah ar-Ra`yi?!” kata Farrukh“Ya, namanya Rabi’ah… akan tetapi para ulama dan syaikh Madinah ini memanggilnya dengan Rabi’ah ar-Ra`yi karena bila mereka tidak mendapatkan satu nashpun dari suatu masalah baik di dalam Kitabullah ataupun hadits Rasulullah, pasti merujuk kepadanya, lantas dia berijtihad dengan ra`yi (pendapat)nya sendiri dalam hal itu. Dia analogkan masalah yang tidak terdapat nashnya itu terhadap masalah yang ada nashnya, lalu memberikan putusan terhadap masalah yang dirasakan rumit oleh mereka tersebut; sebuah putusan yang berkenan di hati.” Kata orang itu melanjutkan

“Tapi kamu belum menyebutkan siapa ayahnya kepadaku.!” Kata Farrukh memelas

“Dia lah Rabi’ah bin Farrukh, yang dijuluki dengan Abu ‘Abdirrahman. Dia dilahirkan setelah ayahnya itu meninggalkan Madinah ini untuk tujuan berjihad di jalan Allah sehingga ibunya lah yang kemudian mengurusi pendidikan dan pertumbuhannya. Aku sudah mendengar menjelang waktu shalat ini masuk tadi, ada orang-orang mengatakan bahwa ayahnya sudah kembali malam tadi.” Kata orang itu

Ketika itulah, dua tetes besar air mata Farrukh mengalir dari kedua matanya sehingga membuat orang tadi tidak mengetahui apa gerangan sebabnya.

Dia kemudian bergegas melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Tatkala Ummu Rabi’ah melihatnya berlinangkan air mata, dia menanyakan,“Ada apa denganmu, wahai Rabi’ah?.”

“Ah, Aku baik-baik saja. Aku tadi telah melihat betapa anak kita sudah mencapai kedudukan ilmu, kehormatan dan kemuliaan yang tidak pernah dimiliki oleh orang-orang sebelumnya.” Jawabnya

UmmU Rabi’ah kemudian tidak menyia-nyiakan kesempatan ini seraya berkata,
“Kalau begitu; mana yang lebih kau cintai: 30.000 dinar atau martabat ilmu dan kehormatan yang telah dicapai anakmu ini?.”

“Demi Allah, malah inilah yang lebih aku cintai dan lebih aku dahulukan ketimbang seluruh harta dunia ini.”

“Sebenarnya, semua yang engkau titipkan padaku itu telah aku habiskan untuk membiayainya.” Kata Ummu Rabi’ah meyakinkan

“Ya, terimakasih, semoga engkau, dia dan kaum Muslimin mendapatkan balasan dariku dengan sebaik-baik balasan.”

Kisah Sahabat Al Bara’ bin Malik Al Anshary

Dia adalah seorang yang rambutnya acak-acakan, badannya penuh dengan debu dan kumal, tubuhnya kurus kerempeng. Orang yang melihatnya (beranggapan) seakan ia orang yang kepayahan, lalu memandangnya sebelah mata.

Walau keadaan fisiknya seperti itu, ia adalah seseorang yang tela membunuh 100 musyrik dalam duel satu lawan satu. Jumlah ini tidak termasuk korban yang dibunuhnya dalam kancah pertempuran bersama mujahidin lainnya.

Al-Barra’ bin Malik adalah seorang pemberani dan selalu terdepan dalam pertempuan.

Dialah yang diceritakan oleh Al-Faruq (Umar bin Al-Khaththab) dalam suratnya. Surat itu dikirimkan oleh Al-Faruq kepada para gubernur di seluruh wilayah Islam. Isinya, “Jangan kalian jadikan Al-Barra’ sebagai komandan pasukan karena dikhawatirkan akan membahayakan pasukannya. Dikarenakan dia seseorang yang selalu berada di ujung tombak pasukan.”

Dialah Al-Barra’ bin Malik Al-Anshari, saudara Anas bin Malik (pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Kisah ini dimulai saat permulaan meninggalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada masa pertama sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, banyak suku/kabilah yang berbondong-bondong keluar dari agama Allah ini. Sebagaimana dahulu mereka masuka ke dalam agama-Nya dengan berbondong-bondong pula. Hingga tidak ada lagi yang memeluk agama Islam kecuali penduduk Makkah, Madinah, Thaif, dan sekelompok kaum yang terpencar-pencar.

Kaum yang tetap memeluk Islam adalah kaum-kaum yang keislamannya telah dikokohkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Abu Bakar Ash-Shiddiq menghadapi huru-hara yang amat dahsyat. Beliau menghadapinya dengan tegar, setegar gunung yang begitu kokoh. Ash-Shiddiq mempersiapkan kaum Muhajirin dan Anshar dalam sebelas pasukan perang. Masing-masing pasukan diberi bendera perang.

Pasukan yang ia siapkan itu dikirim ke seluruh jazirah Arab untuk mengembalikan orang-orang yang murtad ke jalan yang penuh petunjuk dan kebenaran. Juga untuk meluruskan orang-orang yang menyimpang – dari jalan yang lurus – dengan pedang.

Kelompok orang-orang murtad yang paling jahat dan paling banyak jumlahnya adalah Bani Hanifah, pengikut Musailamah Al-Kadzdzab (si pendusta).

Sejumlah besar kaum Musailamah dan kaum-kaum yang terikat perjanjian dengannya mencapai jumlah 40.000 orang. Mereka adalah lawan yang paling keras penentangannya. Mayoritas mereka mendukung Musailamah karena sikap fanatik kesukuan, bukan karena mempercayai kenabiannya.

Sebagian pendukungnya ada yang mengatakan, “Aku bersaksi bahwa Musailamah pendusta, sedangkan Muhammad seorang yang jujur. Akan tetapi, si pendusta dari kalangan Rabi’ah lebih kami cintai daripada orang jujur dari kalangan Mudhar itu (yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen.).”

Musailamah berhasil mengalahkan pasukan Islam pertama yang menggempurnya. Pasukan Islam ini di bawah komando Panglima Ikrimah bin Abu Jahal. Musailamah memaksa pasukan Ikrimah untuk kembali ke Madinah tanpa hasil.

Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq mengirim pasukan kedua di bawah Panglima Khalid bin Al-Walid. Oasukan ini dipenuhi oleh para shahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Di antara barisan pasukan terdepan ada Al-Barra’ bin Malik Al-Anshari dan shahabat-shahabat besar lainnya.

Dua pasukan bertemu di Yamamah, sebuah wilayah yang terletak di Nejed.

Tidak lama berselang, Musailamah dan pengikutnya mampu mengungguli pasukan muslimin, sedangkan pasukan muslimin mendapati bumi seakan berguncang. Pasukan muslimin terpaksa kembali ke tempat pertahanan mereka, sampai-sampai pasukan Musailamah berhasil menyerang tenda Panglima Khalid bin Al-Walid. Bahkan, mereka berhasil merobohkannya. Hampir saja mereka membunuh istri Khalid bila tidak dihalangi oleh salah seorang dari mereka.

Ketika keadaan sudah demikian, kaum muslimin merasakan bahaya besar. Mereka memahami, bila mereka kalah di hadapan Musailamah maka tidak ada lagi pasukan Islam yang tegak.

Lalu Allah tidak akan menjadi satu-satunya Tuhan yang disembah di jazirah Arab; Tuhan yang tiada sekutu bagi-Nya.

Khalid mendekati pasukan, kemudian mengatur mereka. Pasukan Muhajirin dipisahkan dari pasukan Anshar. Pasukan dari kabilah Arab yang lain dipisahkan dari yang lainnya. Setiap keturunan yang sama dijadikan dalam satu regu agar diketahui musibah yang menimpa masing-masing kelompok dan dari mana arahnya.

Perang yang sengit terus berlangsung antara pasukan Islam dengan pasukan Musailamah. Sebuah perang yang kedahsyatannya belum pernah dihadai oleh pasukan muslimin.

Pengikut Musailamah masih tetap tegar sekokoh gunung di medan tempur. Pasukan Musailamah tidak peduli dengan banyaknya pasukan mereka yang tewas. Pasukan muslimin menampilkan kepahlawanan yang menakjubkan. Bila dikumpulkan, akan menjadi sebuah rangkaian syair-syair ksatria perang dan kepahlawanan.

Tersebutlah seorang shahabat yang bernama Tsabit bin Qais. Beliau adalah pembawa bendera kaum Anshar. Beliau menggali lubang di tanah untuk menancapkan kakinya. Beliau memasukkan kakinya sampai setengah betis. Tsabit tetap bertahan di tempatnya untuk mempertahankan bendera tersebut. Sampai akhirnya, beliau gugur sebagai syahid.

Zaid bin Al-Khaththab, saudara Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhum, meneriaki kaum muslimin, “Wahai sekalian muslimin, perangilah musuh dan maju terus! Wahai kaum muslimin, aku tidak akan berkata lagi setelah ini sampai Musailamah tewas atau aku berjumpa dengan Allah. Kemudian aku akan memperberat hukumannya dengan nyawaku.”

Lalu Zaid menggempur musuh habis-habisan. Sampai kemudian, beliau gugur.

Tersebutlah seorang shahabat bernama Salim. Beliau adalah maula (mantan budak) Abu Hudzaifah. Beliau yang memegang bendera Muhajirin. Akan tetapi kaumnya khawatir Salim akan melemah dan mundur. Mereka katakan kepada Salim, “Kami akan khawatir akan ditimpa kekalahan karenamu.”

Salim menjawab, “Bila kalian tertimpa kekalahan karena aku, maka aku adalah pembawa Al-Quran yang paling jelek.”

Lalu Salim menerjang barisan lawan dengan penuh keberanian, sampai kemudian beliau gugur.

Akan tetapi, kepahlawanan mereka masih tak terbandingkan dengan kepahlawanan Al-Barra’ bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Ketika Khalid bin Walid melihat api peperangan semakin menyala, Khalid menoleh kepada Al-Barra’ bin Malik. Khalid berkata kepadanya, “Giliranmu, wahai pemuda Anshar, untuk menghadapi mereka.”

Al-Barra’ menghadap kepada kaumnya, “Wahai kaum Anshar, jangan ada seorang pun di antara kalian yang berpikir bisa kembali ke Madinah. Tidak ada lagi tempat tinggal bagi kalian setelah hari ini. Yang ada hanyalah Allah, kemudian surga!”

Lalu Al-Barra’ bersama kaumnya menggempur orang-orang musyrik itu. Ia memporak-porandakan barisan lawan dengan garangnya. Pedang senantiasa ia tebaskan ke leher musuh-musuh Allah, hingga Musailamah dan pengikutnya menjadi gentar.

Musailamah dan pengikutnya berlindung di sebuah kebun yang dikenal dalam sejarah dengan nama “Kebun Kematian”. Dikenal demikian karena teramat banyaknya pasukan yang tewas di kebun itu. Kebun itu memiliki dinding yang tinggi. Musailamah dan sisa pasukannya menutup pintu kebun. Mereka berlindung di balik tembok yang tinggi sambil menghujani pasukan muslimin dengan anak panah. Seakan anak panah itu hujan yang turun, saking sangat banyaknya.

Pada saat itulah, sang ujung tombak muslimin nan pemberani tampil, yaitu Al-Barra’ bin Malik. Al-Barra’ berkata, “Kawan, letakkan aku di atas perisai. Letakkan perisai itu di atas tombak, lalu lemparkan aku ke dalam kebun, dekat dengan pintu. Entah aku nantinya mati syahid atau aku akan membukakan pintu untuk kalian.”

Dalam sekejap mata, Al-Barra’ duduk di atas perisai. Badannya amat ringan. Puluhan tombak mengangkatnya, lalu ia dilempar ke dalam Kebun Kematian, di tengah ribuan pasukan Musailamah.

Al-Barra’ turun di tengah mereka bagaikan petir. Al-Barra’ terus menyerang mereka di depan pintu. Pedang senantiasa ia tebaskan ke leher lawan. Sampai ia berhasil membunuh belasan orang musuh. Lalu pintu dibukanya.

Al-Barra’ mendapatkan lebih dari 80 luka akibat panah dan sayatan pedang.

Kaum muslimin menyerbu Kebun Kematian, baik dari atas dinding maupun dari pintu-pintunya. Pedang-pedang mereka menebas leher orang-orang murtad yang berlindung di balik dinding Kebun Kematian. Kaum muslimin berhasil menewaskan sekitar 20.000 orang.

Sampailah mereka kepada Musailamah dan menewaskannya.

Al-Barra’ bin Malik dibawa ke tendanya untuk diobati. Khalid bin Al-Walid sendiri yang langsung menangani perawatannya selama satu bulan. Kemudian sembuhlah Al-Barra’ atas kehendak Allah.

Allah menentukan kemenangan bagi kaum muslimin melalui tangannya.

Al-Barra’ bin Malik Al-Anshari senantiasa mengharapkan mati syahid yang telah luput pada saat berada di Kebun Kematian. Peperangan demi peperangan senantiasa beliau ikuti karena rindu utnuk mendapatkan citanya yang besar, dan kerinduannya untuk menyusul Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sampailah ia pada perang penaklukan Tustar yang terletak di negeri Persia.

Pasukan Persia berlindung pada salah satu benteng besar yang kokoh. Kaum muslimin mengepung mereka bagai gelang yang melingkar di pergelangan tangan. Ketika pengepunga telah berlangsung beberapa saat, kesulitan besar telah menimpa pasukan Persia.

Mereka mulai mengayunkan ranta-rantai besi dari atas benteng. Rantai-rantai itu digantungi cakar-cakar dari baja. Cakar-cakar itu telah dipanaskan dengan api hingga lebih membara karenanya. Cakar-cakar api itu digunakan untuk menyambar dan mengait tubuh pasukan muslimin. Kaum muslimin yang berhasil dikait akan diangkat ke arah mereka dalam keadaan mati atau hampir mati.

Salah satu cakar panas mengait Anas bin Malik, saudara Al-Barra’ bin Malik. Al-Barra’ melihat Anas bin Malik terkena cakar pasukan Persia. Kemudian pasukan Persia itu menarik tubuh Anas bin Malik ke atas benteng.

Seketika itu, Al-Barra’ langsung melompat ke atas dinding benteng untuk menyelamatkan saudaranya. Ia memegangi rantai yang mengait Anas bin Malik. Ia mencoba melepaskan dan mengeluarkan saudaranya. Tangan Al-Barra’ terbakar hingga keluar asap. Namun Al-Barra’ tak mempedulikannya. Ia berhasil menyelamatkan saudaranya lalu turun ke tanah dalam keadaan tangannya tinggal tulang; tidak ada dagingnya sama sekali.

Pada perang ini Al-Barra’ berdoa kepada Allah agar memberinya derajat syahid.

Allah mengabulkan doanya. Al-Barra’ gugur sebagai syahid dalam keadaan amat rindu berjumpa dengan Allah.

Semoga Allah mencerahkan wajah Al-Barra’ bin Malik di surga. Serta menyejukkan pandangan matanya dengan bersahabat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah senantiasa meridhai dan menjadikannya orang yang disenangi.

Kisah Sahabat Ady bin Hatim Al Tha’i

Para sahabat memiliki kisah yang berbeda dalam hal memeluk Islam. Ada sahabat yang langsung memeluk Islam setelah menerima ajakan dari Nabi Muhammad seperti Abu Bakar as-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib. Ada yang masuk Islam setelah mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an seperti Umar bin Khattab. Ada juga yang mengucapkan dua kalimat syahadat setelah berinteraksi langsung hingga membuatnya terkesan dengan Nabi Muhammad seperti Adi bin Hatim.

Adi bin Hatim adalah anak al-Jawwad. Dia adalah penguasa Suku at-Tha’i yang dikenal pemurah. Adi adalah salah seorang yang membenci dakwah Islam yang disampaikan Nabi Muhammad. Oleh karenanya, ketika dakwah Islam menyebar ke seluruh penjuru jazirah Arab, Adi bin Hatim meninggalkan kaumnya dan hijrah ke negeri Syam. Semula, ia tetap mempertahankan agama nenek moyangnya dan tidak rela menjadi pengikut Nabi Muhammad.

 “Aku benci kedudukan di sana, melebih kebencianku terhadap Muhammad. Seandainya aku menemuinya, jika dia seorang raja atau pendusta, itu akan membuatku takut. Namun, jika dia berkata benar, aku akan mengikutinya,” kata Adi bin Hatim, dikutip dari buku The Great Episodes of Muhammad SAW (Said Ramadhan al-Buthy, 2017). Dari ucapannya tersebut, kebencian Adi bin Hatim kepada Nabi tidak membuatnya kalap dan menutup mata hatinya.

 Nyatanya, di akhir perkataannya dia menegaskan bahwa dirinya akan masuk Islam jika ajaran yang dibawa Nabi benar. Tidak hanya mengaku-ngaku menjadi Nabi saja.  Hingga suatu ketika, Adi bin Hatim ingin bertemu dengan Nabi Muhammad dan pergi ke Madinah. Ia ingin memastikan kebenaran Nabi Muhammad secara langsung. Sesampai di Masjid Nabawi, Adi menyampaikan salam dan kemudian dijawab Nabi. Dia langsung memperkenalkan diri setelah Nabi Muhammad bertanya perihal identitasnya. Nabi lalu mengajak Adi pergi ke rumahnya, yang notabennya hanya beberapa jengkal saja dari Masjid Nabawi. Di tengah jalan, ada seorang wanita tua yang meminta Nabi Muhammad berhenti. Nabi pun berhenti beberapa saat.

Wanita tua tersebut langsung menyampaikan beberapa kebutuhannya kepada Nabi. Melihat kejadian itu, Adi bin Hatim merasa terheran-heran. Dia membatin, bagaimana mungkin seorang raja berperilaku seperti itu. Tidak ada jarak dengan rakyat jelata. Keheranan Adi bin Hatim berlanjut. Saat sampai di rumah Nabi, ia diberikan bantal sebagai tempat duduk, sementara Nabi duduk di tanah tanpa bantal karena memang bantalnya cuma satu. Bagi Nabi, Adi bin Hatim yang merupakan tamunya adalah yang utama. Lagi-lagi Adi bin Hatim membatin, apa yang dilakukan Nabi tersebut bukanlah kebiasaan para raja.  Adi adalah seorang elit di kaumnya. Ia mengira akan mendapatkan sesuatu yang berharga di kediaman Nabi Muhammad. Namun, perkiraannya tersebut meleset. Apa yang didapatinya begitu berbeda dengan apa yang dibayangkannya.

 Dan Nabi Muhammad bukanlah seperti ‘raja’ yang diduganya. Karena memang kebiasaan raja-raja adalah gila harta dan gila penghormatan. Setelah itu, terjadi tanya-jawab antara Nabi Muhammad dan Adi bin Hatim. Adi bin Hatim menjawab tidak tahu ketika Nabi menanyakan perihal tuhan selain Allah dan tuhan yang lebih besar dari pada Allah.  Nabi lalu bertanya perihal agama yang dianut Adi bin Hatim, Rukusiya –agama perpaduan antara Nasrani dan Shabiiyyah, praktik mirba di kaumnya –praktik jahiliyah dimana seorang pemimpin berhak mendapatkan seperempat harta ghanimah. Adi bin Hatim membenarkan semua perkataan Nabi Muhammad itu. Nabi Muhammad kemudian menyampaikan tiga hal yang menghalangi Adi bin Hatim masuk Islam.

 Pertama, penganut ajaran Islam saat itu miskin-miskin. Nabi meyakinkan bahwa tidak lama lagi umat Islam akan memiliki harta yang berlimpah ruah sehingga tidak ada seorang pun yang miskin. Perkataan Nabi ini terbukti pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Azis, dimana saat itu tidak ada seorang pun yang berhak menerima zakat karena umat Islam sudah sejahtera.    Kedua, jumlah umat Islam sedikit, sementara musuhnya lebih banyak. Terkait hal ini, Nabi Muhammad juga meyakinkan kepada Adi bin Hatim bahwa sebentar lagi akan ada berita mengenai seorang wanita yang berangkat dengan mengendarai unta dari Qadisiyyah ke Baitullah Makkah tanpa rasa takut. Lag-lagi apa yang dikatakan Nabi ini menjadi kenyataan. Ketika umat Islam menguasai wilayah tersebut, maka seseorang bisa bepergian dengan aman karena tidak ada lagi penyamun. “(Ketiga) yang menglangimu masuk agama ini adalah engkau menyaksikan bahwa raja dan penguasa bukanlah dari kalangan mereka. Demi Allah, sebentar lagi engkau akan mendengar berita mengenai istana-istana putih dari Babilonia yang kutaklukkan,” kata Nabi. Sesaat setelah itu Adi bin Hatim mengikrarkan diri memeluk Islam.

Kisah Sahabat Abu Ubaidah Ibnu Al Jarrah

Nama lengkapnya Amir bin Abdullah bin Jarrah Al-Fihry Al-Quraiys, namun lebih dikenal dengan Abu Ubaidah bin Jarrah. Wajahnya selalu berseri, matanya bersinar, ramah kepada semua orang, sehingga mereka simpati kepadanya. Di samping sifatnya yang lemah lembut, dia sangat tawadhu dan pemalu. Tapi bila menghadapi suatu urusan penting, ia sangat cekatan bagai singa jantan.

Abdullah bin Umar pernah berkata tentang orang-orang yang mulia. “Ada tiga orang Quraiys yang sangat cemerlang wajahnya, tinggi akhlaknya dan sangat pemalu. Bila berbicara mereka tidak pernah dusta. Dan apabila orang berbicara, mereka tidak cepat-cepat mendustakan. Mereka itu adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.”

Abu Ubaidah termasuk kelompok pertama sahabat yang masuk Islam. Dia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, sehari setelah Abu Bakar masuk Islam. Waktu menemui Rasulullah SAW, dia bersama-sama dengan Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un dan Arqam bin Abi Arqam untuk mengucapkan syahadat di hadapan beliau. Oleh sebab itu, mereka tercatat sebagai pilar pertama dalam pembangunan mahligai Islam yang agung dan indah.

Dalam kehidupannya sebagai Muslim, Abu Ubaidah mengalami masa penindasan yang kejam dari kaum Quraiys di Makkah sejak permulaan sampai akhir. Dia turut menderita bersama kaum Muslimin lainnya. Walau demikian, ia tetap teguh menerima segala macam cobaan, tetap setia membela Rasulullah SAW dalam tiap situasi dan kondisi apa pun.

Dalam Perang Badar, Abu Ubaidah berhasil menyusup ke barisan musuh tanpa takut mati. Namun tentara berkuda kaum musyrikin menghadang dan mengejarnya. Kemana pun ia lari, tentara itu terus mengejarnya dengan beringas. Abu Ubaidah menghindar dan menjauhkan diri untuk bertarung dengan pengejarnya. Ketika si pengejar bertambah dekat, dan merasa posisinya strategis, Abu Ubaidah mengayunkan pedang ke arah kepala lawan. Sang lawan tewas seketika dengan kepala terbelah.

Siapakah lawan Abu Ubaidah yang sangat beringas itu? Tak lain adalah Abdullah bin Jarrah, ayah kandungnya sendiri! Abu Ubaidah tidak membunuh ayahnya, tapi membunuh kemusyrikan yang bersarang dalam pribadi ayahnya.

Berkenaan dengan kasus Abu Ubaidah ini, Allah SWT berfirman: “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS Al-Mujaadalah: 23)

Ayat di atas tidak membuat Abu Ubaidah besar kepala dan membusungkan dada. Bahkan menambah kokoh imannya kepada Allah dan ketulusannya terhadap agama-Nya. Orang yang mendapatkan gelar “kepercayaan umat Muhammad” ini ternyata menarik perhatian orang-orang besar, bagaikan magnet yang menarik logam di sekitarnya.

Pada suatu ketika, utusan kaum Nasrani datang menghadap Rasulullah seraya berkata, “Wahai Abu Qasim, kirimlah kepada kami seorang sahabat anda yang pintar menjadi hakim tentang harta yang menyebabkan kami berselisih sesama kami. Kami senang menerima putusan yang ditetapkan kaum Muslimin.”

“Datanglah sore nanti, saya akan mengirimkan kepada kalian ‘orang kuat yang terpercaya’,” kata Rasulullah SAW.

Umar bin Al-Khathab berujar, “Aku ingin tugas itu tidak diserahkan kepada orang lain, karena aku ingin mendapatkan gelar ‘orang kuat yang terpercaya’.”

Selesai shalat, Rasulullah menengok ke kanan dan ke kiri. Umar sengaja menonjolkan diri agar dilihat Rasulullah. Namun beliau tidak menunjuknya. Ketika melihat Abu Ubaidah, beliau memanggilnya dan berkata, “Pergilah kau bersama mereka. Adili dengan baik perkara yang mereka perselisihkan!”

Abu Ubaidah berangkat bersama para utusan tersebut dengan menyandang gelar “orang kuat yang terpercaya”.

Abu Ubaidah selalu mengikuti Rasulullah berperang dalam tiap peperangan yang beliau pimpin, hingga beliau wafat.

Dalam musyawarah pemilihan khalifah yang pertama (Al-Yaum Ats-Tsaqifah), Umar bin Al-Khathab mengulurkan tangannya kepada Abu Ubaidah seraya berkata, “Aku memilihmu dan bersumpah setia, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya tiap-tiap umat mempunyai orang kepercayaan. Dan orang paling dipercaya dari umat ini adalah engkau.”

Abu Ubaidah menjawab, “Aku tidak mau mendahului orang yang pernah disuruh Rasulullah untuk mengimami kita shalat sewaktu beliau hidup—Abu Bakar Ash-Shiddiq. Walaupun sekarang beliau telah wafat, marilah kita imamkan juga dia.”

Akhirnya mereka sepakat untuk memilih Abu Bakar menjadi khalifah pertama, sedangkan Abu Ubaidah diangkat menjadi penasihat dan pembantu utama khalifah.

Setelah Abu Bakar wafat, jabatan khalifah pindah ke tangan Umar bin Al-Khathab. Abu Ubaidah selalu dekat dengan Umar dan tidak pernah menolak perintahnya. Pada masa pemerintahan Umar, Abu Ubaidah memimpin tentara Muslimin menaklukkan wilayah Syam (Suriah). Dia berhasil memperoleh kemenangan berturut-turut, sehingga seluruh wilayah Syam takluk di bawah kekuasaan Islam, dari tepi sungai Furat di sebelah timur hingga Asia kecil di sebelah utara.

Abu Ubaidah meninggal dunia karena terkena penyakit menular yang mewabah di Syam. Menjelang wafatnya, ia berwasiat kepada seluruh prajuritnya, “Aku berwasiat kepada kalian. Jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan, kalian tidak akan sesat dari jalan yang baik, dan senantiasa dalam keadaan bahagia. Tetaplah kalian menegakkan shalat, berpuasa Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan haji dan umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama kalian, nasihati pemerintah kalian, dan jangan biarkan mereka tersesat. Dan janganlah kalian tergoda oleh dunia. Walaupun seseorang berusia panjang hingga seribu tahun, dia pasti akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini.”

Kemudian dia menoleh kepada Mu’adz bin Jabal, “Wahai Muadz, sekarang kau yang menjadi imam (panglima)!”

Tak lama kemudian, ruhnya meninggalkan jasad untuk menjumpai Tuhannya.

Kisah Sahabat Abu Thalhah Al Anshary (Zaid Bin Sahl)

Abu Thalhah berniat melamar Ummu Sulaim sebagai istrinya, ia pun pergi ke rumah wanita Muslimah baik-baik yang telah menjanda itu. Sesampai di rumah Ummu Sulaim, Abu Thalhah diterima dengan baik. Putra Ummu Sulaim, Anas, turut hadir dalam pertemuan tersebut. Abu Thalhah menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu hendak melamar Ummu Sulaim.

Namun Ummu Sulaim menolak lamaran Abu Thalhah. “Sesungguhnya pria seperti anda, hai Abu Thalhah, tidak pantas saya tolak lamarannya. Tetapi saya tidak akan kawin dengan anda, karena anda kafir,” ujarnya.

“Demi Allah, apakah yang menghalangimu untuk menerima lamaranku, hai Ummu Sulaim?” tanya Abu Thalhah.

Ummu Sulaim menjawab, “Saksikanlah, hai Abu Thalhah. Aku bersaksi kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya jika kau masuk agama Islam, aku rela menjadi suamimu tanpa emas dan perak. Cukuplah Islam itu menjadi mahar bagiku.”

“Siapa yang harus mengislamkanku?” tanya Abu Thalhah.

“Aku bisa.”

“Bagaimana caranya?”

“Tidak sulit,” kata Ummu Sulaim. “Ucapkan saja dua kalimah syahadat. Tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah. Setelah itu, kau harus pulang ke rumahmu dan menghancurkan berhala sembahanmu lalu kau buang!”

Abu Thalhah tampak gembira. Ia kemudian mengucapkan dua kalimah syahadat. Setelah itu ia menikahi Ummu Sulaim dengan mahar, agama Islam.

Mendengar berita ini, kaum Muslimin berkata, “Belum pernah kami dengar mahar kawin yang lebih mahal daripada mahar Ummu Sulaim. Maharnya masuk Islam.”

Sejak hari itu, Abu Thalhah berada di bawah naungan Islam. Segala daya dan upayanya ia korbankan untuk berkhidmat kepada Islam.

Abu Thalhah dan istrinya, Ummu Sulaim, termasuk “Kelompok 70” yang bersumpah setia (baiat) kepada Rasulullah di Aqabah. Ia ditunjuk oleh Rasulullah menjadi kepala salah satu regu dari 12 regu yang dibentuk malam itu untuk mengislamkan Yatsrib.

Dia ikut berperang bersama Rasulullah dalam tiap peperangan yang beliau pimpin. Ia mencintai Rasulullah sepenuh hati dan segenap jiwa. Apabila Rasulullah berdua saja dengannya, dia bersimpuh di hadapan beliau sambil berkata, “Inilah diriku, kujadikan tebusan bagi diri anda, dan wajahku menjadi pengganti wajah anda.”

Ketika terjadi Perang Uhud, barisan kaum Muslimin terpecah-belah dan lari tunggang-langgang. Oleh sebab itu, pasukan musyrikin sempat menerobos pertahanan mereka sampai ke dekat Rasulullah. Musuh berhasil mencederai beliau, mematahkan gigi, dan melukai bibirnya. Sehingga darah mengalir membahasi wajah Nabi. Lalu kaum musyrikin menyebarkan isu bahwa Rasulullah telah wafat.

Mendengar teriakan kaum musyrikin itu, kaum Muslimin menjadi kecut, lalu lari porak-poranda meninggalkan Rasulullah. Hanya segelintir orang yang saja yang bertahan, mengawal dan melindungi beliau. Di antara mereka adalah Abu Thalhah yang berdiri paling depan.

Abu Thalhah juga sosok Muslim yang pemurah, ia kerap mengorbankan harta bendanya untuk agama Allah. Ia juga sering berpuasa dan berperang sepanjang hidupnya. Bahkan ia meninggal ketika sedang berpuasa dan berperang fi sabilillah. Kurang lebih 30 tahun setelah Rasulullah SAW wafat, dia senantiasa berpuasa, kecuali di hari raya. Umurnya mencapai usia lanjut, namun ketuaan tidak menghalanginya untuk berjihad di jalan Allah.

Pada masa Khalifah Utsman, kaum Muslimin bertekad hendak berperang di lautan. Abu Thalhah pun bersiap-siap hendak turut berjihad dengan kaum Muslimin. Anak-anaknya protes. “Wahai ayah, engkau sudah tua, engkau sudah ikut berperang bersama-sama dengan Rasulullah, bersama Abu Bakar dan Umar bin Al-Khathab. Kini ayah harus beristirahat, biarlah kami yang berperang untuk ayah,” kata mereka.

Abu Thalhah menjawab, “Bukankah Allah telah berfirman: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS At-Taubah: 41). Firman Allah itu memerintahkan kita semua, baik tua maupun muda. Allah tidak membatasi usia kita untuk berperang.”

Ia pun ikut berperang. Ketika Abu Thalhah yang sudah lanjut usia itu berada di atas kapal di tengah lautan bersama tentara Muslimin, ia jatuh sakit lalu meninggal dunia. Kaum Muslimin melihat-lihat daratan, mencari tempat pemakaman jenazah Abu Thalhah. Namun setelah enam hari berlayar, barulah mereka menemukan daratan. Selama itu jenazah Abu Thalhah disemayamkan di tengah-tengah mereka di atas kapal, tanpa berubah sedikit pun. Bahkan ia seperti orang yang sedang tidur nyenyak.

Kisah Sahabat Abu Sufyan bin Al Harits

Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muthalib adalah putra dari paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Harits. Tidak hanya itu, ia juga merupakan saudara sepersusuan dengan Nabi. Jadi, Abu Sufyan adalah seorang ahlul bait. Kisah keislamannya menarik untuk diceritakan.

Nasabnya

Nasab Abu Sufyan adalah Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay al-Qurasyi al-Hasyimi. Ia adalah putra pertama dari paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Harits bin Abdul Muthalib. Hubungan kekerabatan itu kian dekat, karena Abu Sufyan bin al-Harits juga merupakan saudara sepersusuan Nabi. Keduanya disusui oleh Halimah as-Sa’diyah. Adapun ibu kandungnya bernama Ghaziyah binti Qays.

Sebelum Muhammad bin Abdullah diutus menjadi Rasul, Abu Sufyan sangat dekat sekali dengan beliau. Namun, ketika risalah kenabian datang, ia memusuhi sepupunya ini. Mengecamnya. Dan memfitnah para sahabatnya. Ia memiliki kemahiran yang unggul di masa itu, yaitu penyair (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra 4/36, al-Qurthubi dalam al-Isti’ab 41673, dan Abdul Malik al-‘Ashami dalam Simthu an-Nujum 1/400).

Memeluk Islam

Abu Sufyan bin al-Harits dan Abdullah bin Abu Umayyah bin al-Mughirah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Tsaniyah al-‘Iqab. Suatu tempat antara Mekah dan Madinah. Keduanya masuk rumah Nabi dan berbincang dengan istri beliau Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Ummu Salamah berkata, “Wahai Rasulullah, ini ada putra pamanmu, putra bibimu, dan juga iparmu.” Rasulullah menjawab, “Aku tidak berkeperluan dengan keduanya. Putra pamanku telah merusak kehormatanku. Sedangkan putra bibiku sekaligus iparku, sewaktu di Mekah dia telah mengatakan apa yang dia katakan.”

Mendengar ucapan Rasulullah itu, Abu Sufyan bin al-Harits yang membawa putranya berkata, “Demi Allah, Rasulullah mengizinkan aku atau aku akan membawa diriku dan anakku ini pergi ke suatu tempat hingga kami mati dalam keadaan kehausan atau kelaparan.”

Saat mengetahui keinginan Abu Sufyan, Rasulullah pun luluh. Mereka diizinkan masuk menemui beliau. Kemudian Abu Sufyan menggubah sebuah syair tentang keislamannya dan permohonan maafnya atas perbuatannya di masa lalu.

Dalam al-Maghazinya, al-Waqidi menyebutkan riwayat tentang keislaman Abu Sufyan bin al-Harits. Abu Sufyan berkata, “Siapa teman? Dan aku harusnya bersama siapa? Islam semakin dekat (semakin berkuasa). Segera Kutenemui istri dan anakku. Kukatakan pada mereka, ‘Ayo bersiap untuk pergi. Malam ini Muhammad akan sampai pada kalian’.

Mereka berkata, ‘Sekarang telah kau lihat, orang-orang Arab dan non Arab telah mengikuti Muhammad. Sementara kau masih saja memusuhinya. Semestinya engkau adalah orang yang paling terdepan membelanya!’

Kukatakan pada budakku, Madzkur, ‘Cepat siapkan onta dan kuda’. Kemudian kami pergi hingga sampai di Abwa. Saat sampai di perbatasan Abwa, aku menyamar karena merasa takut akan dibunuh. Darahku serasa menggeram. Aku pun keluar. Ternyata kudapati anakku, Ja’far, di hadapanku sejarak satu mil. Di pagi hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Abwa. Orang-orang menghadap dan menemui beliau satu per satu. Aku menyelinap ke kerumunan sahabatnya. Ketika tunggangannya mendekat, aku muncul di hadapannya. Saat kedua matanya menatapku, ia palingkan wajahnya dariku. Aku berupaya mengikuti kemana arah wajahnya berpaling. Tapi berkali-kali pula tetap ia palingkan wajahnya dariku. Aku coba dari arah dekat maupun jauh.

‘Aku telah terbunuh sebelum sampai padanya’, gumamku. Tapi aku teringat dengan kebaikan, sifat kasih, dan kekerabatannya denganku. Itulah yang menahanku. Aku yakin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya akan sangat bergembira dengan keislamanku. Karena aku kerabatnya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika kaum muslimin melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling dariku, mereka semua juga turut berpaling. Ibnu Abu Quhafah (Abu Bakar) berpaling dariku. Kemudian kulihat Umar mengarahkanku pada seorang Anshar. Seorang menatapku dan berkata, ‘Hai musuh Allah, kamu kah orang yang menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya, hingga rasa permusuhanmu itu memenuhi antara timur dan barat?!’ Sambil mengangkat suaranya, ia ulang-ulang ucapannya itu padaku. Sampai aku merasa orang-orang senang dengan intimidasinya padaku’.

Abu Sufyan melanjutkan, ‘Aku pun menemui pamanku, Abbas. Kukatakan padanya, ‘Hai Abbas, sungguh aku berharap Rasulullah akan bergembira dengan keislamanku. Karena kedudukanku sebagai kerabat. Namun aku telah melihat responnya terhadapku. Tolong, bicaralah padanya agar ridha padaku’.

Abbas menjwab, ‘Demi Allah, tidak. Setelah kulihat responnya padamu, aku tak akan membahas tetangmu sepatah kata pun. Sungguh aku segan dengan wibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam’.

Aku (Abu Sufyan) berkata, ‘Wahai paman, lalu kepada siapa lagi aku bersandar?’ ‘Itu urusanmu’, jawab Abbas.

Kemudian kutemui Ali -semoga Allah merahmatinya-. Aku bicara dengannya. Ia pun menjawab semisal jawaban Abbas. Lalu aku kembali menuju Abbas.

Kukatakan padanya, ‘Wahai paman, cukuplah untukku seseorang yang mencelaku tadi’. Ia berkata, ‘Coba jelaskan cirinya padaku?’ ‘Dia seorang yang berkulit sawo matang pekat. Pendek. Dan besar perutnya. Di antara kedua matanya terdapat tanda hitam’, kataku. ‘Itu adalah Nu’man bin al-Harits an-Najjari’, kata Abbas. Ia pun membawaku menemuinya. Abbas berkata, ‘Hai Nu’man, ini adalah Abu Sufyan. Putra dari paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan putra dari saudara laki-lakiku. Kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah, ia akan ridha. Berdamailah dengan dia (keponakanku ini)’. Setelah ketidak-pastian dan beratnya permasalahan yang kuhadapi, ternyata ia juga tak mau menerimaku. Ia berkata, ‘Aku tidak akan membawanya (menemui Rasulullah)’.”

Abu Sufyan berkata, “Aku pun keluar dan duduk di pintu rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau keluar hendak menuju Juhfah. Beliau tetap tidak berbicara denganku. Demikian juga, tak seorang pun dari kaum muslimin.

Setiap Nabi menyinggahi suatu rumah, aku senantiasa duduk di pintunya bersama anakku, Ja’far. Setiap Nabi melihatku, beliau selalu berpaling dariku. Demikian keadaanku terus-menerus. Hingga aku keluar bersamanya di hari Fathu Mekah. Aku berusaha selalu membersamainya sampai ia turun di suatu tempat yang banyak idkhirnya hingga ke tempat berkerikil. Aku mendekatinya dari pintu kemahnya. Ia memandang dengan pandangan yang lebih lembut dari sebelumnya. Aku berharap ia tersenyum. Kemudian wanita-wanita bani al-Muthalib menemuinya. Aku pun masuk bersama mereka dan bersama istriku yang telah memisahkan diri dariku. Kemudian Nabi keluar menuju masjid dan aku berada di hadapannya. Saat itu aku tidak berpisah darinya hingga ia keluar menuju Hawazin (Perang Hunain).

Aku pun berperang bersamanya. Orang-orang Arab berkumpul. Ini adalah sebuah perkumpulan yang sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka keluar dengan perempuan-perempuan dan anak-anak dalam keadaan berjalan. Saat kujumpai mereka, kukatakan, “Hari ini usahaku akan berhasil insyaallah. Saat terjadilah peristiwa seperti yang Allah firmankan,

ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

“Kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” [Quran At-Taubah: 25]

Saat orang-orang lari tercerai-berai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap teguh di atas bighalnya. Beliau dikepung pedang sementara pedangnya sendiri terampas. Kudaku ditikam. Bantingan pedang kutangkis dengan pedangku. Pelipis nabi terluka. Allahu a’lam.. Aku ingin mati dalam keadaan melindunginya. Kulihat ia menatapku. Sementara Abbas bin Abdul Muthalib mengambil tali kekang bighal beliau. Dan kugapai sisi lainnya. Nabi berkata, “Siapa ini?” Lalu kusingkapkan helm perangku. Abbas berkata, “Rasulullah, itu adalah saudara (sepersusuanmu), putra dari pamanmu. Ia adalah Abu Sufyan bin al-Harits. Ridhailah dia, wahai Rasulullah.” “Aku ridha padanya”, jawab Rasulullah. Allah telah mengampuni segala permusuhan yang dulu dilakukan Abu Sufyan.

Nabi menumpangi tungganganku kemudian menoleh padaku, beliau berkata, “Saudaraku.” Kemudian ia perintahkan Abbas, “Serulah! Hai ash-Habul Baqarah! Hai ash-Habul Samarah (yang berbaiat pada baiat ridhwan) hari Hudaibiyah! Hai Muhajirin! Hai Anshar! Hai Hazraj!” Mereka semua menjawab, “Kami penuhi panggilan penyeru Allah.” Orang-orang mengambil kembali baju besinya, pedangnya, dan tombaknya. Mereka tinggalkan tunggangan yang tak mau berbalik.

Aku (Abu Sufyan) tak lagi mengkhawatirkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas ancaman mereka dan tombak-tombak mereka. Rasulullah berkata padaku, “Maju! Dan seranglah mereka! Aku pun maju dan menggusur musuh dari posisinya. Rasulullah mengiringiku menuju kumpulan musuh. Sampai akhirnya kami berhasil memukul mundur mereka.” (al-WaqidI: al-Maghazi 2/807-809).

Anak-Anak Abu Sufyan

Abu Sufyan memiliki beberapa orang istri. Ia menikah dengan Jumanah binti Abu Thalib. Darinya ia memiliki dua orang putra yang bernama Abdullah dan Ja’far. Ja’far inilah yang bersamanya saat ia memeluk Islam. Kemudian dua orang putri: Jumanah dan Hafshah. Hafshah ini dikenal juga dengan Hamidah (Ibnu Hajar: al-Ishabah, 8/63).

Ia juga menikah dengan Ummu Amr binti al-Muqawwim bin Abdul Muthalib. Seorang wanita dari kalangan kerabatnya, Bani Hasyim. Dari Ummu Amr, Abu Sufyan dikaruniai seorang putri yang bernama Atikah. Kemudian Atikah menikah dengan Mas’ud bin Mut’ib ats-Tsaqafi. Dari pasangan ini lahirlah seorang sahabat mulia yang bernama Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu.

Kemudian beberapa orang budak wanita. Seperti Umayyah, Ummu Abu al-Hayyaj, dan Ummu Kultsum.

Kedudukan Abu Sufyan

Awalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendiamkan Abu Sufyan. Hal itu sebagai pelajaran atas apa yang ia lakukan. Sekaligus menguji kesungguhannya. Namun kemudian, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai sepupunya ini. Bahkan beliau mempersaksikan bahwa anak pamannya ini termasuk penghuni surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَبُو سُفْيَانَ بْنِ الْحَارِثِ سَيِّدُ فِتْيَانِ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Abu Sufyan bin al-Harits adalah pemimpin pemuda surga.” (Ibnu Hajar: al-Ishabah 7/152).

Beliau juga bersabda,

أَرْجُو أَنْ يَكُوْنَ خَلَفًا مِنْ حَمْزَةَ

“Aku berharap ia sebagai pengganti Hamzah.” (Adz-Dzahabi: Siyar A’lam an-Nubala 3/129).

Dikatakan bahwa orang-orang yang mirip dengan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Ja’far bin Abu Thalib, Hasan bin Ali, Qatsam bin Abbas, dan Abu Sufyan bin al-Harits.” (Ibnu al-Atsir: Asad al-Ghabah 6/141).

Said bin al-Musayyib mengatakan bahwa Abu Sufyan shalat di musim panah hingga tengah hari. Sampai tiba waktu shalat sunnat makruh dilakukan. Kemudian ia shalat lagi setelah zuhur sampai ashar.” (Adz-Dzahabi: as-Siyar 3/129-130).

Saat hendak wafat, Abu Sufyan menghibur keluarganya dengan ucapannya, “Janganlah kalian tangisi aku. Sungguh aku tidak mengotori diriku dengan dosa sejak aku memeluk Islam.” (al-Qurthubi: al-Isti’ab 4/1675).

Jihad Abu Sufyan

Sejak awal keislamannya, Abu Sufyan segera mengejar ketinggalannya dalam beramal. Ia mulai membiasakan diri menikmati manisnya iman dan ibadah. Sehingga tak butuh waktu lama, ia pun menjadi seorang ahli ibadah, banyak sujud, dan seorang mujahid. Ia berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Fathu Mekah dan perang-perang setelahnya.

Pada Perang Hunain, ia benar-benar memperlihatkan kesungguhannya dan keberaniannya. Di saat orang-orang kocar-kacir karena serangan mendadak. Rasulullah tetap tegar sambil berkata,

إليَّ أيُّها الناس، أنا النبيُّ لا كذب، أنا ابن عبد المطلب

“Marilah bersamaku hai para pasukan. Aku ini seorang Nabi yang tidak berdusta. Aku ini putranya Abdul Muthalib.”

Dalam keadaan genting itu, Abu Sufyan bersama putranya Ja’far tetap setia mendampingi Nabi. Abu Sufyan meraih tali kekang tunggangan Nabi. Kemudian berhasil membunuh orang-orang musyrik yang mengepung Nabi. Saat keadaan mulai terkendali dan kaum muslimin kembali ke medan perang, Allah pun memberikan kemenangan untuk mereka. Saat debu peperangan tak lagi mengepul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandangi orang yang memegang tali kekang kendaraannya. Beliau berkata, “Siapa ini? Saudaraku Abu Sufyan bin al-Harits?” Mendengar ucapan Rasulullah “Saudaraku”, rasa-rasanya jantung Abu Sufyan mau copot karena bahagia. Ia pun tersungkur bahagia dan mencium kedua kaki Rasulullah.

Seorang Penyair

Abu Sufyan adalah penyair Bani Hasyim. Sebelum Islam, gubahan syairnya bermuatan hinaan dan serangan terhadap Islam juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hasan bin Tsabit radhiallahu ‘anhu berkata

أَلَا أَبْلِغْ أَبَا سُفْيَانَ عَنِّي … مُغَلْغَلَةً فَقَدْ بَرَحَ الْخَفَاءُ

هَجَوْتَ مُحَمَّدًا فَأَجَبْتُ عَنْهُ … وَعِنْدَ اللهِ فِي ذَاكَ الْجَزَاءُ

Maukah kau sampaikan pada Abu Sufyan risalah dariku. Hilanglah rahasia.
Kau serang Muhammad (dengan syair), kuberi jawab untuknya. Dan untuk itu di sisi Allah-lah pahala. (Adz-Dzahabi: Tarikh al-Islam, 2/120).

Setelah Abu Sufyan memeluk Islam, ia menggubah syair berisikan permohonan maaf kepada Nabi atas apa yang telah ia lakukan sebelum Islam. Demikian juga saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, ia menggubah syair. Mengungkapkan sedih yang ia rasakan.

أَرِقْتُ فَبَاتَ لَيْلِي لَا يَزُولُ … وَلَيْلُ أَخِي الْمُصِيبَةِ فِيهِ طُولُ

Kubersedih, kulalui malamku yang tak kunjung usai. Malamnya saudaraku adalah musibah panjangku.

وَأَسْعَدَنِي الْبُكَاءُ وَذَاكَ فِيمَا … أُصِيبَ الْمُسْلِمُونَ بِهِ قَلِيلُ

Tangis ini membahagiakanku. Karena sedikit umat Islam merasakan pilu.

فَقَدْ عَظُمَتْ مُصِيبَتُنَا وَجَلَّتْ … عَشِيَّةَ قِيلَ: قَدْ قُبِضَ الرَّسُولُ

Besar sekali musibah kami dan muluk. Siang berkata: telah wafat sang utusan.

فَقَدْنَا الوَحْيَ وَالتَّنْزِيْلَ فِيْنَا … يَرُوْحُ بِهِ وَيَغْدُو جِبْرَئِيْل

Terputuslah wahyu yang turun pada kami. Pergi bersamanya dan Jibril pun demikian.

وَذَاكَ أَحَقُّ مَا سَالَتْ عَلَيْهِ … نُفُوْسُ الخَلْقِ أَوْ كَادَتْ تَسِيْل

Itulah yang pantas pergi bersamanya. Nyawa makhluk atau hampir berlalu.

نَبِيٌّ كَانَ يَجْلُو الشَّكَّ عَنَّا … بِمَا يُوْحَى إِلَيْهِ وَمَا يَقُوْل

Seorang Nabi yang dulu menghapus keraguan kami. Dengan apa yang dia katakan dan wahyu.

وَيَهْدِيْنَا فَلاَ نَخْشَى ضَلاَلًا … عَلَيْنَا وَالرَّسُوْلُ لَنَا دَلِيْلُ

Dia tunjuki kami sehingga kami tak takut tersesat. Dan Rasul itu dalil untuk kami.

فَلَمْ نَرَ مِثْلَهُ فِي النَّاسِ حَيًّا … وَلَيْسَ لَهُ مِنَ المَوْتَى عَدِيْل

Tak pernah kami lihat manusia hidup yang sepertinya. Dan tidak ada pula semisalnya setelah mati. (Ibnu Katsir: al-Bidayah wa an-Nihayah, 7/103).

Wafat

Sebelum wafat, Abu Sufyan telah menggali liang kubur untuk dirinya sendiri. Ini menunjukkan bagaimana para sahabat menganggap kematian adalah kepastian dan perlu dipersiapkan. Sebelum wafat ia mengalami sakit. Sakit tersebut bermula saat ia pergi haji. Saat melakukan tahallul (cukur), kutil di kepalanya tergerus pisau cukur. Sejak itu ia jatuh sakit hingga mengantarkannya pada wafatnya. Ia wafat pada tahun 20 H. Jenazahnya dimakamkan di Baqi’. Ada pula yang mengatakan dimakamkan di rumah Aqil bin Abu Thalib. Umar bin al-Khattab mengimami shalat jenazahnya (Ibnu Abdil Bar: al-Isti’ab, 4/1676). Semoga Allah meridhai Abu Sufyan bin al-Harits, sepupu sekaligus saudara sepersusuan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kisah Sahabat Abu Hurairah Al Dausy

Beliau adalah Abu Hurairah ‘Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausy Al-Yamany radiyallahu ‘anhu.

Ada banyak pendapat lainnya yang disebutkan para ulama perihal nama beliau dan nama ayahnya. Diantaranya bahwa nama beliau sebelum memeluk agama islam adalah ‘Abdusy Syams yang bermakna penyembah matahari, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengganti namanya menjadi ‘Abdullah. Sedangkan nama ayahnya disebutkan bernama ‘Amir, Namun riwayat yang lebih masyhur dan paling rajih bahwa nama beliau adalah ‘Abdurrahman bin Shakhr sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafidz Adz-Dzahabi rahimahullah dalam “Siyar A’lam An-Nubalaa 2/578”.

Beliau berasal dari negeri Yaman, suku Daus, olehnya nisbah beliau adalah Al-Yamany Ad-Dausy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Abu Hurairah, “Engkau berasal dari mana ?”, beliau menjawab, “Aku berasal dari suku Daus”, maka Rasulullah memberi kabar baik dengan sabdanya, “Aku tak pernah menyangka sebelumnya bahwa akan ada seseorang yang memiliki kebaikan sepertimu dari suku Daus.”

Abu Hurairah pernah berkata kepada para sahabat, “Mengapa kalian memanggilku dengan kuniyah Abu Hurairah ? padahal Rasulullah telah memanggilku dengan sebutan “Abu Hirr”. Para sahabat radiyallahu ‘anhum memang lebih sering memanggil beliau dengan julukan Abu Hurairah, sebab beliau punya kebiasaan bermain dengan beberapa anak kucing peliharaannya selagi ia menggembalakan kambing-kambing milik keluarganya.

Keislamannya:

Beliau telah memeluk agama islam semenjak masih berada di negeri Yaman. Keislaman beliau setelah pulangnya pemimpin suku Daus Thufail bin ‘Amr dari kota Madinah dan menyebarkan islam di negeri Yaman. Pada tahun ketujuh hijriyyah, Abu Hurairah akhirnya melakukan hijrah ke kota Madinah untuk berbakti terhadap agama Allah subhanahu wata’ala.

Ketika beliau datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat telah berangkat menuju peperangan khaibar. Kota Madinah yang saat itu sedang kosong, diamanahkan kepada sahabat Siba’ bin ‘Urfuthah yang juga menjadi imam sholat rawatib di masjid nabawi. Abu Hurairah tiba tepat ketika sholat subuh didirikan, maka Siba’ membaca surah Maryam pada raka’at pertama, dan surah Al-Muthoffifin pada raka’at kedua. Usai melaksanakan sholat, Abu Hurairah bergumam, “Celakalah ayahku, karena sangat sedikit dari pedagang di kampung melainkan mereka pasti memiliki dua timbangan penakar, satu untuk keuntungan dirinya, dan yang satu dipakai untuk menipu para pembeli.”

Bentuk Fisik, Akhlak, dan Kehidupannya:

Beliau adalah seorang yang berperawakan baik dan lembut, tubuhnya bidang, rambutnya dikepang dua, janggutnya berwarna merah semir. Dilihat dari keadaannya, setiap orang akan tahu bahwa beliau adalah orang yang tidak memiliki harta. Beliau memang hijrah ke kota Madinah dengan membawa bekal seadanya saja sebab ‘azam yang membulatkan tekadnya untuk hijrah adalah menuntut ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantara bekal yang beliau bawa adalah seorang budak yang seyogyanya akan beliau jual, namun di tengah perjalanan budak itu melarikan diri darinya.

Rumah beliau adalah masjid nabawi, ia tinggal bersama kurang lebih 70 orang ahlus suffah di dalamnya. Beberapa kali ia menggeliat bak orang gila atau kesurupan diantara mimbar Rasulullah dengan rumah ‘Aisyah atau yang dikenal dengan raudhah saat ini. Sahabat yang melihatnya kadang duduk di atas dadanya hendak membacakan ayat-ayat ruqyah kepadanya, maka Abu Hurairah lekas mendongak dan berkata, “Aku seperti ini karena rasa laparku.”

Guru-gurunya:

Tentu saja guru beliau yang paling mulia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Guru dari seluruh guru, penghulu para Nabi dan Rasul Allah subhanahu wata’ala.

Hidup di masjid nabawi memiliki keutamaan yang sangat besar bagi beliau. Beliau dapat mengikuti majelis-majelis ilmu Rasulullah, mendengarkan arahan dan nasehatnya, serta bertanya kepada Rasulullah. Namun beliau tidak membatasi diri dengan hanya menimba ilmu dari Rasulullah, sebab telah lewat masa perjuangan yang panjang dalam sejarah islam sedang Abu Hurairah tak berada di sana. Maka selama 4 tahun hidup bersama Rasulullah, Abu Hurairah terus fokus mempelajari Al Quran dan Hadits, serta bertanya kepada para sahabat senior seperti Abu Bakar, Umar, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah, Al-Fadhl bin ‘Abbas, Bashrah bin Abi Bashrah, dan Ka’ab Al-Habr. Hingga beliau mendulang ilmu yang lebih banyak dibandingkan sahabat lainnya bahkan tak seorangpun melebihi ilmu beliau.

Murid-muridnya:

Dengan membawa ilmu yang sangat banyak tersebut maka bukan sebuah hal yang mengherankan apabila beliau menjadi menara ilmu yang dituju oleh para sahabat sendiri dan tabiin yang datang setelah mereka. Berkata Imam Bukhari rahimahullah, “Jumlah murid beliau melebihi 800 orang.”

Menuntut Ilmu dan Khidmat Kepada Hadits:

Abu Hurairah juga digelar sebagai “Rawiyatul Islam” atau perawi agama islam karena beliau meriwayatkan hadits yang sangat banyak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan terbanyak dari seluruh sahabat dengan jumlah 5.374 hadits. Menjadi tongkat estafet pertama yang menukilkan secara langsung syariat islam dan secara khusus hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para ulama yang datang setelahnya. Tentu saja hal ini adalah khidmat dan kontribusi terbesar yang pernah dilakukan oleh seorang ulama hadits

Para sahabat sendiri merasa keheranan dengan hapalan hadits yang dimiliki oleh Abu Hurairah. Maka beliau menjelaskan, “Bahwa ketika orang-orang Muhajirin sibuk dengan ladang mereka, dan orang-orang Anshar sibuk dengan perniagaan mereka, di awktu yang sama aku justru sibuk dengan hadits Rasulullah, aku hadir dalam majelis beliau di saat mereka tak ada”. Memang semangat beliau dalam menuntut ilmu tidak ada duanya, hingga Rasulullah mempersaksikan hal tersebut ketika Abu Hurairah bertanya kepada beliau tentang orang yang paling berbahagia dengan syafaatnya, maka Rasulullah bersabda:

“Sungguh Aku telah mengira wahai Abu Hurairah bahwa tidak akan ada seorangpun yang mendahuluimu untuk bertanya tentang hal tersebut karena semangatmu dalam mempelajari ilmu hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku kelak pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan kalimat tauhid, tulus ikhlas dari dirinya.” (HR. Bukhari nomor 99)

Abu Hurairah yang miskin dan memfokuskan dirinya pada ilmu dengan menghapal serta murajaah di masjid nabawi juga mendapatkan karunia doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mustajab. Seperti permintaan Abu Hurairah kepada Rasulullah untuk diajarkan ilmu yang diberikan Allah kepadanya, lalu Rasulullah menyobek sedikit kain pakaian Abu Hurairah dan membentangkannya, kemudian Rasulullah menyampaikan sebuah kalimat untuk dihapalkan Abu Hurairah, keesokan harinya Abu Hurairah dapat menghapal semua hadits Rasulullah tanpa kesalahan sedikitpun.

Berdasarkan doa Rasulullah tersebut, maka para ulama menjadikan ajaibnya kekuatan hapalan Abu Hurairah sebagai salah satu bukti kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wafatnya:

Di akhir hidupnya setelah mengorbankan begitu banyak pengorbanan dan khidmat terhadap agama islam, Abu Hurairah jatuh sakit dan meninggal pada tahun 57 H di kota Madinah, dan dikuburkan di pekuburan Baqi’.

Kisah Sahabat Abu Dzar Al Ghifary (Jundub Bin Junadah)

Di lembah Waddan, sebuah tempat yang menghubungkan Mekkah dengan dunia luar, tersebutlah sebuah suku bernama Suku Ghifar. Suku ini hidup dari upeti yang diberikan oleh rombongan-rombongan dagang yang hilir mudik antara Syria dan Mekkah. Mereka akan menyerang rombongan-rombongan itu bilamana tidak mendapatkan apa yang dibutuhkannya.

Jundub bin Junadah, juga dipanggil Abu Dzar, adalah salah seorang anggota suku ini.

Orang ini dikenal karena keberanian dan ketenangannya, wawasannya yang jauh, juga karena kebenciannya atas penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang-orang di antara sukunya. Ia menentang kepercayaan jahiliah dan cara-cara beragama yang melenceng di kalangan masyarakat Arab kala itu.

Tatkala ia berada di padang pasir Waddan, sampailah kabar kepadanya tentang sesosok Nabi baru dari Mekkah. Ia berharap kemunculan Nabi ini akan membawa perubahan dalam hati dan alam pikiran orang-orang dan sanggup mengangkat mereka dari kegelapan takhayul. Maka, tanpa membuang waktu lagi, dipanggillah Anis, saudaranya:

“Pergilah ke Mekkah dan carilah kabar sebanyak-banyaknya tentang orang yang mengaku Nabi ini dan tentang wahyu yang turun kepadanya. Dengarkan baik-baik apa yang diucapkannya lalu kembalilah, dan ceritakan semuanya kepadaku.”

Berangkatlah Anis ke Mekkah dan ditemuilah Sang Nabi, shalallahu alaihi wassalaam. Ia dengarkan baik-baik apa-apa saja yang diucapkannya, lalu ia pun kembali ke padang Waddan. Abu Dzar menemuinya, tak sabar ingin mendengarkan berita tentang Nabi.

“Di sana ada seorang lak-laki,” kisah Anis, “ia mengajak orang-orang kepada sifat-sifat mulia, tidak hanya dengan syair-syair.”

“Apa kata orang tentangnya?” tanya Abu Dzar.

“Mereka bilang ia penyihir, tukang ramal dan penyair.”

“Ini belum cukup bagiku. Maukah kau menjaga keluargaku selama aku pergi? Aku ingin menyelidikinya sendiri.”

“Baiklah. Tapi berhati-hatilah dengan orang-orang Mekkah.”

Sesampai di Mekkah, Abu Dzar sangat cemas dan merasa harus mengambil langkah waspada. Orang-orang Quraisy di Mekkah sedang marah karena penghinaan terhadap berhala-berhala mereka. Ia juga mendengar kabar tentang berbagai kekerasan yang dialami para pengikut Nabi ini dan situasi inilah yang memang harus ia hadapi. Lantaran tidak tahu siapa kawan siapa lawan, ia menahan diri untuk tidak bertanya kepada siapapun tentang Muhammad.

Saat senja menjelang, ia merebahkan tubuhnya di pelataran Masjidil Haram. Ali bin Abi Thalib r.a., tatkala melewatinya dan menyadari ada seorang asing di Masjid, mengajaknya untuk singgah ke rumahnya. Abu Dzar melewati malam bersama Ali dan ketika pagi hari tiba, ia bergegas meraih kantung air dan tas perbekalannya, kembali ke Masjidil Haram. Ia sama sekali tidak bertanya, juga tak seorang pun menanyakan tentangnya.

Abu Dzar menghabiskan hari itu tanpa memperoleh kabar apa-apa tentang Nabi. Begitu matahari tenggelam, ia kembali ke Masjidil Haram untuk tidur dan Ali sekali lagi melewatinya, seraya berkata:

“Tidakkah ini saatnya seseorang kembali ke rumahnya?”

Abu Dzar pun menemaninya dan menginap di rumah Ali di malam kedua. Lagi-lagi, tidak ada satu pun pertanyaan terlontarkan.

Namun di malam ketiga, Ali mulai bertanya kepadanya, “Maukah kau ceritakan padaku apa maksud tujuanmu ke Mekkah?”

“Hanya bila kau berjanji akan membawaku kepada apa yang kucari,” pinta Abu Dzar.

Ali setuju. Maka Abu Dzar pun lalu melanjutkan:

“Aku datang ke Mekkah dari tempat yang jauh hendak bertemu Nabi baru dan mendengarkan nasihatnya.”

Wajah Ali tampak berseri-seri, “Demi Tuhan, ia memang seorang Utusan Allah,” dan Ali pun melanjutkan bercerita tentang Nabi dan apa-apa saja yang diajarkannya. Lalu ia berkata:

“Selepas bangun di pagi hari nanti, ikutilah aku kemana aku pergi. Jika aku merasakan sesuatu yang membahayakan keselamatanmu, aku akan berhenti sejenak seperti hendak melompati genangan air. Jika kulanjutkan lagi langkahku, ikuti sampai aku masuk ke tempat di mana aku masuk.”

Abu Dzar tak bisa tidur pada malam itu karena tak sabar bertemu Nabi dan mendengarkan petuah-petuahnya. Tatkala pagi pun menjelang, diikutinya langkah-langkah Ali sampai ke tempat Nabi berada.

“Assalaamu ‘alaika yaa Rasulullah,” ujar Abu Dzar memberi salam.

“Wa ‘alaika salaamullahi wa rahmatullahi wa barakatuh,” jawab Nabi.

Abu Dzar adalah orang pertama yang memberi salam kepada Nabi dengan ucapan demikian. Setelah hari itu, ucapan salam ini pun menyebar dan dipakai secara luas di kalangan Muslim.

Nabi mempersilakan Abu Dzar dan mengajaknya untuk masuk ke dalam Islam. Nabi membacakan beberapa ayat Al-Qur’an kepadanya. Seketika itu pula, Abu Dzar mengucapkan Kalimah Syahadah dan memeluk agama baru ini. Ia adalah salah seorang dari generasi awal pemeluk Islam.

Kisah ini berlanjut dengan apa yang diceritakannya sendiri.

Setelah itu, aku tinggal bersama Nabi di Mekkah. Ia mengajariku tentang Islam dan membaca Al-Qur’an. Ia berkata kepadaku, “Jangan ceritakan kepada siapapun di Mekkah tentang agamamu ini. Aku khawatir mereka akan membunuhmu.”

“Demi yang menggenggam jiwaku di tangan-Nya, aku tak akan meninggalkan Mekkah sampai aku berdiri di Masjidil Haram dan mewartakan ajaran Kebenaran ini di tengah-tengah kaum Quraisy,” janji Abu Dzar.

Nabi terdiam. Aku pun beranjak pergi ke Masjidil Haram. Di sana, kaum Quraisy sedang duduk dan berbincang-bincang. Aku berjalan ke tengah-tengah mereka dan berteriak sekuat tenagaku, “Wahai kaum Quraisy, aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah!”

Ucapanku itu mengusik perhatian mereka. Seketika itu pula mereka menyerbuku, “Tangkap orang itu yang telah meninggalkan agamanya!” Mereka memukuliku sejadi-jadinya, dan betul-betul hendak membunuhku. Namun Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi, ia mengenaliku. Ia merunduk dan melindungiku. Katanya di depan orang-orang:

“Celaka kalian! Apakah kalian akan membunuh seorang dari Suku Ghifar sementara rombongan kalian masih melewati wilayah mereka?”

Mereka pun melepaskanku. Lalu aku kembali ke tempat Nabi. Ketika ia melihat keadaanku, ia berkata, “Bukankah aku telah melarangmu untuk menceritakan keislamanmu di depan orang-orang?”

“Wahai Rasulullah,” jawabku, “ini adalah gejolak di dalam jiwaku dan kini aku telah memenuhinya.”

“Pergilah kepada kaummu,” perintah Nabi, “ceritakan apa yang telah kau lihat dan dengar. Undang mereka kepada ajaran Allah. Semoga Allah menganugerahkan kebaikan kepada mereka melaluimu, dan memberimu pahala melalui mereka. Nanti saat kau dengar aku telah membuka diri, datanglah kepadaku.”

Aku pun bergegas pergi dan menemui kaumku. Saudaraku menyambutku dan bertanya, “Apa yang telah kau lakukan?” Aku kabarkan kepadanya bahwa aku kini seorang Muslim dan percaya pada kebenaran yang dibawa oleh Muhammad.

“Aku tidak menentang agama barumu ini. Bahkan mulai kini aku pun seorang Muslim dan percaya kepada Muhammad,” sahutnya.

Kami bersama menemui ibu kami dan mengajaknya untuk memeluk Islam.

“Aku tidak ada masalah dengan agamamu. Aku pun memeluk Islam,” ujar ibuku.

Semenjak hari itu pula, keluarga Muslim ini tak henti-hentinya, tanpa kenal lelah, mengajak orang-orang Ghifar untuk memeluk ajaran Allah. Banyak orang dari suku ini kemudian menjadi kaum Muslim, bahkan sholat berjamaah pun didirikan di antara mereka.

Abu Dzar tetap berdiam di padang pasir sampai Nabi hijrah ke Madinah dan terjadi peperangan Badr, Uhud dan Khandaq. Di Madinah, Abu Dzar meminta Nabi agar diijinkan menjadi pelayannya. Nabi menyetujui dan senang atas ungkapan rasa persahabatan dan pelayanan itu. Rasulullah terkadang menunjukkan kesukaannya kepada Abu Dzar lebih dari sahabat-sahabat lainnya. Bilamana bertemu Abu Dzar, Nabi senantiasa menepuk dan tersenyum kepadanya, menunjukkan kebahagiaannya.

Setelah wafatnya Rasulullah, Abu Dzar tak kuasa tinggal di Madinah lantaran rasa duka dan kesadaran bahwa tak ada lagi orang yang membimbingnya. Ia pun pergi ke daerah tandus Syria dan tinggal di sana semasa kekhalifahan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a.

Di masa kepemimpinan Utsman r.a., ia tinggal di Damaskus dan menyaksikan masyarakat Muslim yang mulai bersikap keduniawian dan cenderung bermegah-megahan. Sehingga ia pun berontak, lalu terusir. Maka, Utsman mengundangnya datang ke Madinah. Di Madinah, ia juga lantang mengkritik orang-orang di sekitarnya yang memburu kesenangan dunia, sehingga mereka pun membalas mencacinya. Karena situasi itu, Utsman memerintahkan agar ia pergi ke Rubdzah, sebuah desa kecil di dekat Madinah. Di sana, ia tinggal jauh dari orang-orang, sehingga tak lagi menghina mereka yang terjebak pada kehidupan dunia — dan bisa tetap berpegang teguh pada warisan asli Rasulullah dan para sahabatnya dalam merengkuh kehidupan Akhirat yang abadi, yang jauh lebih baik dari kehidupan dunia yang sementara ini.

Pernah suatu kali ada yang menengoknya dan mendapati di rumahnya hampir tidak ada apa-apa. Ia bertanya kepada Abu Dzar:

“Di mana barang-barang milikmu?”

“Kami punya rumah di seberang sana (maksudnya di Akhirat),” jawab Abu Dzar, “di sanalah kami menyimpan barang-barang kami.”

Orang itu memahami apa yang dimaksud, lalu menimpali:

“Namun engkau harus punya barang-barang selama tinggal di tempat ini.”

“Pemilik tempat ini tak ingin kami tinggal di dalamnya,” tukas Abu Dzar.

Abu Dzar sangat teguh dalam kehidupannya yang sangat sederhana dan zuhud sampai akhir hayatnya. Suatu kali seorang amir Syria mengiriminya tiga ratus dinar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dikembalikannya uang itu seraya berkata, “Tidakkah amir Syria menemukan seseorang yang lebih berhak daripada aku?”

Pada tahun 32 H, sang zahid Abu Dzar menghembuskan nafas terakhirnya. Rasulullah SAW pernah berkata tentang beliau ini:

“Tak ada lagi di muka bumi dan di bawah naungan langit, orang yang lebih jujur dan teguh selain Abu Dzar

Kisah Sahabat Abu Darda

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut era para sahabat sebagai sebaik-baik umat manusia. Sahabat adalah mereka yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad shallallahu’ alaihi wasallam, berjumpa dengan beliau dalam keadaan muslim dan meninggal dalam keadaan memeluk Islam.

Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in),” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198).

Salah satu sahabat Rasulullah yang patut diteladani adalah Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Abu Darda’ memiliki kebiasaan luar biasa yang dilakukan karena kasih-sayang dan kecintaan kepada para sahabatnya.

Abu Darda’ selalu mendoakan saudara-saudara dan sahabat-sahabatnya ketika ia sedang bersujud. Ia tak mendoakan para sahabatnya secara umum, melainkan disebutkannya nama-nama para sahabatnya satu persatu. Bahkan disebutkannya juga nama bapak-bapak para sahabatnya itu.

Itulah bentuk kasih-sayang dan kecintaan seorang sahabat Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam kepada orang-orang yang disebutnya sebagai sahabat. Sebuah kebiasaan yang seyogianya ditiru untuk memantapkan ukhuwah Islamiyah di antara umat Islam.

Abu Darda’ bernama Uwaimir bin Amir bin Mâlik bin Zaid bin Qais bin Umayyah bin Amir bin Adi bin Ka`b bin Khazraj bin al-Harits bin Khazraj. Ada yang berpendapat, namanya adalah Amir bin Mâlik, sedangkan Uwaimir adalah julukannya. Ibunya bernama Mahabbah binti Wâqid bin Amir bin Ithnâbah.

Beliau termasuk Sahabat yang akhir masuk Islam. Akan tetapi, beliau termasuk Sahabat yang bagus keislamannya, seorang faqih, pandai dan bijaksana. Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakannya dengan Salman al-Fârisi radhiyallahu ‘anhu. (Fath)